Rabu, 10 Juni 2015

Indonesia, Negeri J#ncuk yang kucinta! (part 1)



Saya menyebut judul diatas negeri bukan sebagai negara, karena negeri menurut saya tidak terikat aturan formalitas seperti negara. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), negara berati (kata benda dan kata sifat) suatu organisasi dari suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi sah dan ditaati rakyat, yang memiliki batas-batas wilayah yang formal. Kata negara berkaitan dengan sudut pandang politik dan pemerintahan. Sedangkan negeri berati (kata benda dan kata sifat) sebagai tanah tempat tinggal suatu bangsa, kampung halaman, kata negeri berkaitan dengan ilmu geografi.
Jancuk menurut Sujiwotejo “Jancuk” itu ibarat sebilah pisau. Fungsi pisau sangat tergantung dari user-nya dan suasana psikologis si user. Kalau digunakan oleh penjahat, bisa jadi senjata pembunuh. Kalau digunakan oleh seorang istri yang berbakti pada keluarganya, bisa jadi alat memasak. Kalau dipegang oleh orang yang sedang dipenuhi dendam, bisa jadi alat penghilang nyawa manusia. Kalau dipegang orang yang dipenuhi rasa cinta pada keluarganya bisa dipakai menjadi perkakas untuk menghasilkan penghilang lapar manusia. Begitupun “jancuk”, bila diucapkan dengan niat tak tulus, penuh amarah, dan penuh dendam maka akan dapat menyakiti. Tetapi bila diucapkan dengan kehendak untuk akrab, kehendak untuk hangat sekaligus cair dalam menggalang pergaulan, “jancuk” laksana pisau bagi orang yang sedang memasak. “Jancuk” dapat mengolah bahan-bahan menjadi jamuan pengantar perbincangan dan tawa-tiwi di meja makan.
Jancuk merupakan simbol keakraban. Simbol kehangatan. Simbol kesantaian. Lebih-lebih di tengah khalayak ramai yang kian munafik, keakraban dan kehangatan serta santainya “jancuk” kian diperlukan untuk menggeledah sekaligus membongkar kemunafikan itu (Sujiwotejo).
Menurut Kamus Daring Universitas Gadjah Mada , istilah “jancuk, jancok, diancuk, diancok, cuk, atau cok" memiliki makna “sialan, keparat, brengsek (ungkapan berupa perkataan umpatan untuk mengekspresikan kekecewaan atau bisa juga digunakan untuk mengungkapkan ekspresi keheranan atas suatu hal yang luar biasa)”.
Kata jancuk bila di telusur dari sejarahnya sangat panjang dan saya tak akan menjelaskannya di tulisan ini. Saya tulis Indonesia Jancuk karena subuah keheranan saya atas negeri ini. Indonesia adalah tanah yang sangat saya cinta negeri besar yang selalu mengundang keheranan saya kenapa negeri ini tidak bisa maju. Apa mungkin kata juncuk ini mempengaruhimu, untuk sesuatu yang positif tentunya, heheuu.
Indonesia sebuah negara besar, dengan penduduk yang banyak, beragam kebudayaan sosial, dan bermacam kekayaan alam. Akan tetapi kita selalu merasa kecil dan kurang percaya diri dengan sebuah negara besar ini. Indonesia itu lahir sebelum kemerdekaan di proklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Indonesia yang berada dalam jalur sutra perdagangan Tiongkok sejak jaman kerajaan dulu sudah banyak dilirik oleh penjajah yang ingin menguasai Indonesia. Tidak hanya itu mereka juga mengincar hasil alam dari indonesia yang berupa rempah-rempah. Rempah-rempah di Indonesia sejak dulu dikenal baik dan bisa menghasilkan dalam jumlah yang cukup banyak.
Selain kekayaan alam Indonesia juga memiliki keindahan alam yang sangat menakjubkan karena terletak diantara garis khatulistiwa, iklim tropis yang begitu menyenangkan banyak orang yang ingin menikmati keindahan alam Indonesia. Menikmati sinar hangat matahari di Indonesia. Ini justru kebalikan bagi orang Indonesia mereka terlalu malu untuk menikmati keindahan alam Indonesia, banyak dari kita yang justru malah bangga dengan keadaan di luar negeri dan berwisata di luar negeri. Mungkin karena gengsi dan biaya yang lebih murah.
Lihat indahnya laut indonesia seperti di wilayah bali, lombok, borneo, karimun jawa, raja ampat, dan pantai2 lain yang tersebar di wilayah selatan pulau jawa ataupun yang pulau lainnya. Pantai yang menjadi simbol keindahan alam tanah air kita, hanya dijadikan sebagai ajang untuk liburan untuk wisata secara lariyah. Mereka yang berlibur ke pantai datang air bermain pasir, seperti buih mereka hanya datang untuk melepas kesumpekan yang mereka rasakan dalam kesehariannya.
Keindahan pantai itu tak benar benar mereka nikmati secara batianiah, bahwa laut dan pantai itu mencirminkan keadaan semesta yang begitu luasnya. Kita hanya ibarat buih di pantai dengan lautan yang luas. Betapa kecilnya kita, tapi kenapa masih juga sombong. “(Manusia itu ibarat buih yang hanya beriuh rendah di pantai tanpa menyadari adanya lautan. Seperti bumi ini hanya bagian kecil dari alam semesta)”. Bahkan keindahan pantai yang mereka nikmati itu tidak dijaga, banyak yang meninggalkan sampah di pantai tanpa mereka sadari itu bisa merusak keindahanya.
Alasan untuk pergi berwisata ke alam adalah untuk menikmati ciptaan Tuhan untuk mengakui keindahan ciptaan Tuhan, tapi mereka mengingkari itu banyak yang malah justru merusaknya. Lawong dalam keseharian saja banyak yang meninggalkan rumah Tuhan (rumah ibadah), kok kalau berwisata ngakunya mau menikmati alam yang indah ciptaan Tuhan, Apa gak Jancuk itu namanya???.
 Negara besar dengan sejuta kesemrawutanya ini belum cukup dewasa untuk mengetahui dirinya, orang-orang penting yang ada di dalam negeri ini masih sibuk mencari nama untuk diri dan golongannya. Hanya sesekali bicara tentang keindahan indonesia. Sedikit bumbu atas nama rakyat dan kemakmuran, mereka mengeruk keuntungan dari program yang akan mereka jalankan, dan tak banyak yang bisa mengevaluasi program-program kerja yang akan mereka jalankan itu apakah mengenai sasaran tentang kemakmuran atau tidak.
Negara memungut pajak dari rakyatnya, dan pemungutan yang besar itu berasal dari perusahaan yang ada di Indonesia, tapi tidak sedikit perusahaan yang mempermainkan pungutan pajaknya yang untuk kesejahteraan karyawanya, itu pembelaan perusahaan berdasarkan tax planning yang pernah saya pelajari dulu. Tax planning di negeri ini memang legal tapi menurut saya itu celah melegalkan suatu yang ilegal, heheuu.
Pajak dan kekayaan alam Indonesia sebenarnya sudah sangat cukup untuk membuat masyarakat indonesia adil dan makmur secara merata, kalau saja pelaksanaanya benar sesuai dengan konstitusi negara kita. Uang pajak seharussnya bisa menyediakan fasilitas yang bisa merangsang kreativitas warga negara terutama anak muda, berikan ruang untuk berekspresi bukan ruang untuk berkorupsi.
Atas nama kemakmuran tidak sedikit dari masyarakat kita yang mengejar kemakmuran sampai ke luar negeri walaupun dengan ilmu dan keahlian yang pas-pasan sebut saja Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Dengan iming – iming gaji yang besar mereka bersedia pergi menjadi TKI. Andai saja negara di dunia ini seperti negara – negara di eropa yang tidak menerima TKIvmungkin saja Indonesia sudah jadi negara maju, karena Indonesia tidak bisa mengekpor komoditi berharganya yaitu TKI ke luar negeri.
Tanah yang subur ini, saat ini banyak dipercayakan pengelolaannya kepada orang – orang asing, perusahaan besar di Indonesia banyak di miliki orang asing. Masyarakat kita hanya jadi pembantu di negeri sendiri, mungkin TKI itu menganggap lebih bermartabat jadi pembantu di negeri orang dari pada jadi pembantu di negeri sendiri. Ini sangat ironis, seharusnya pemerintah bisa lebih menciptakan banyak peluang dan lapangan kerja bagi mereka karena Inonesia ini adalah negeri yang subur.
Pemerintah harus bisa mencetak pengusaha – pengusaha muda, jadikan profesi petani dan nelayan itu profesi yang lebih unggul dari pada Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selama ini terlalu banyak uang negara habis untuk mensejahterkan aparaturnya sehingga lupa mensejahterakan rakyatnya. Ciptakan iklim yang bisa membuat anak mudanya tidak bermalas-malasan dan tidak bergantung dengan pendidikan formal mereka.
Masyarakat negeri ini terlalu sibuk memikirkan isi perutnya sendiri, saat lapar saja sudah tidak peduli apalagi ketika kenyang mereka semakin lupa dengan tanggung jawab untuk negerinya. Tempat dimana mereka tinggali hanya jadi sebuah tempat berpijak tanpa ada rasa ingin merawat dan menjaga alam termasuk peduli dengan orang lain. Mereka hanya bisa merusak dan merusaknya. Rusaklah semua, negeri dengan air yang berlimpah kini banyak yang kekuarangan air bersih, negeri dengan sawah yang luas kini banyak impor beras, negeri yang luas dengan pemikirin sempit masyarakatnya, negeri surga ini sepertinya mau direbut dengan cara pembodohan masyarakat secara perlahan lahan. Kita tak mau itu terjadi tapi perilaku kita mendukung itu terwujud. Damn!!
Sebagai contoh buang sampah sembarangan, kita sering kali tak peduli dengan sempah sekecil apapun ketika musim kemarau, akan tetapi saat musim hujan tiba sampah-sampah yang menumpuk itu bisa menyebabkan banjir dan kerusakan lingkungan. Dan ketika banjir itu datang alamlah yang dijadikan kambing hitam, bukannya dijadikan introspeksi. Itulah yang selalu terjadi setiap tahunnya. Kemudian kita baru peduli dan bergotong royong untuk membersihkan sampah.
Seharusnya negeri ini masif dalam mengampanyekan gerakan jangan buang sampah sembarangan, bukannya masif kampenya dalam pemilihan caleg saja. Lawong batu akik saja bisa menjamur di negeri ini, kenapa kampenya jangan buang sampah sembarangan tidak bisa. Apa gak jancuk itu namanya??
Ada sebuah cerita tentang sampah dari temen saya, nama panggilanya “babe”. Rambutnya yang kriting dan tingkahnya yang unik dan berkomitmen terhadap suatu masalah yang mungkin remeh bagi orang lain. Pernah suatu ketika dia bercerita, saat berada di loker perusahaan tempat dia bekerja, dia selalu memunguti sampah plastik bekas makanan atapun bungkus permen disekitar tempat itu dan membuangnya di tempat sampah. Dan ketika itu juga ada seorang temannya yang menyeletuk “mbok biaran aja sampahnya di situ, lagian juga ada petugasnya yang memunguti sampah, kamu ga usah repot-repot” (kalimat itu diucapkan dalam bahasa jawa). Tak hanya itu orang2 disekitarnya juga melihat dengan penuh keheranan, dan mungkin berkata dalam hati “orang yang aneh”.
Si babe itu pun tak menggubris pernyataan temannya, malah sampah plastik bekas makanan yang masih berserakan di sekitar tempat sampah dia punguti dan dimasukkan dalam tempat sampah. Sampai saat ini setelah saya konfirmasi dia masih melakukan hal itu dan dia juga suka mengantongi bungkus permen yang dia makan ketika tak ada tempat sampah, dan membuangnya selagi nemu tempat sampah. Dari contoh kecil si babe tadi dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa melakukan hal yang baik dan itu malah dianggap tabu oleh orang di sekitar kita. Suatu hal yang salah akan menjadi benar ketika itu terus menerus dilakukan, dan hal kebenaran yang sejati akan menjadi salah. Apa ga jancuk masyarakat yang seperti itu??? dan mungkin saya juga termasuk masayakarat yang jancuk itu tapi tipis, heheuu.
Sampah suatu yang remeh temeh tapi penting. Coba bayangkan jika di pemukimanmu tidak ada tukan sampah keliling yang bersedia membuang sampah raumah tanggamu. Pasti kalian akan membuang sampah itu di kali (sungai), itu tidak menyelesaikan msalah tapi malah menambah masalah. Masih ada lho warga yang membuang sampah rumah tangganya di kali (sungai). Kok ga ada petugas yang berwenang yang memberitahu dan menegurnya. Hei para pamong negara buatlah aturan yang mengikat tentang membuang sampah terutama sampah rumah tangga.
Selain belum dewasa, negeri ini juga latah, salah satu contoh latah yang paling hidup yang konsumerisme. Budaya konsumtif sudah melekat pada masayarakat kita. Kita membeli sesuatu barang bukan untuk menikmati fungsi barang itu tapi justru lebih banyak ingin pamer dan buat gaya2an biar keliatan gaul dan modern. Bersaing untuk menjadi manusia yang super modern dan tidak ketinggalan jaman dengan menerobos etika-etika yang ada. Latah budaya dan bahasa, kita tahu akhir-akhir ini banya budaya luar negeri yang masuk ke indonesia, salah satu yang paling berpengaruh adalah K-pop. Budaya dari negeri gingseng itu secara masif masuk ke Indonesia tanpa bisa kita filter.
Selain budaya dari negeri gingseng, budaya dari India akhir-akhir ini menyerbu kedalam media di tanah air. Cerita tentang wayang Ramayana dan Mahabharata dibungkus secara modern dan menarik perhatian kalangan pecinta sinetron, menurut saya bukan karena ceritanya tapi karena pemainnya. Cerita wayang Ramayana dan Mahabharata di Indonesia ini saya yakin lebih menarik karena ada sosok punokawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) yang lucu dan penuh nasihat yang selalu menjadi tokoh dalam “goro-goro”. Cerita wayang dari tanah airpun sekarang semakin sedikit orang yang mengenalnya. Mungkin karena sangat terbatasnya ruang dan media untuk mementaskanya. “Trok tok tok tok biaya mengundang dalang mahal harganya cuk”, (terdengar suara aneh yang masuk dalam pikiranku).
Masyarakat menganggap budaya luar itu keren, gaul, modern, la “ndasmu” itu yang keren, bangga kok dengan budaya orang lain, tanpa kamu mengerti budaya kita sendiri, tanpa kamu kenal budaya kita sendiri, atau mungkin memang budaya kita yang tidak memeperkenalkan diri semasif budaya korea. Apa hal seperti ini ga jancuk namanya?. Atau, mungkin mereka menganggap budaya kita itu kuno. Kita punya seabrek budaya yang kalau dipelajari akan lebih lama dari pada mempelajari terpisahnya korea jadi dua bagian utara dan selatan.
Gadget dan smartphone banyak yang tidak digunakan sebagai mana fungsinya yang utama, banyak dari kita yang hanya menggunakanya pada takaran fungsi yang bukan utama. Padalah provider di negara ini belum siap menyambut kehadiran smartphone yang fungsi dari benda itu berbasis internet.
Bermacam informasi bisa kita peroleh dengan cepat, secepat kilat sebelum guntur datang menggelegar. Banyak dari kita yang memporelah informasi itu di telan mentah-mentah, tidak jelas sumber kebenaranya, pokoknya langsung kita terima dan bahkan langsung pula kita sebarkan semacam gosip. Lhah memangnya kalian ini presenter berita atau atau infotainment kok main sebar menyebar informasi seperti kalau di media sosial namnya broadcast message. Jadilah pengguna smarphone yang cerdas, jangan cuma ikut-ikutan. Sepertinya kata “we live in the era of smartphone and stupid people”.
 Tak jarang pula informasi yang belum jelas kebenaranya itu memacu timbulnya konflik. Dan terkadang media justru memperbesar konflik tanpa ada penyelesain bersama yang jelas dan saling merangkul. Media hanya menggambarkan perbedaan-perbedaan informasi atau pendapat yang ga jelas arahnya untuk sebuah persatuan.
Televisi yang selalu menyiarkan budaya negara lain, itu salah satu contoh pembodohan masyarakat. Pemerintah tidak memfilternya, ini mendorong terkikisnya nilai budaya bangsa Indonesia, kita bangsa yang mempunya ratusan bahkan ribuan budaya yang tak dibina atau diberi kesempatan lebih untuk bisa tampil di negerinya sendiri. Justru malah budaya asing yang diberi posisi lebih untuk bisa memperkenalkan diri.
Tayangan televisi yang sudah tidak lagi mempedulikan aspek budaya lokal, televisi yang hanya hanya mementingkan perutnya sendiri. Banyak program televisi yang tak mencerminkan Aku Cinta Indonesia. Mungkin bagian luarnya mereka bungkus dengan aspek budaya Indonesia tapi isi cerita sama sekali melenceng dari budaya masyarakat Indonesia.
Tanah air yang kucintai ini tidak bisa menjadi maju oleh satu atau sekelompok orang yang peduli dengan Indonesia, harus ada peran dari semua warga negara. Peradapan suatu bangsa dapat dirubah dengan semua dukungan dan peran serta rakyatnya. Kekecewaan terhadap pejabat negara dan pemerintahan jangan dijadikan sikap apatis terhadap bangsa dan negara ini. Melalui budaya kita bangun kembali Indonesia jadi lebih baik dan maju. Melalui peran serta sesuai dengan keahlian kita masing-masing, wujudkan Nusantara yang sejahtera.
Akan tetapi terkadang saya berpikir warga yang tak peduli dengan kondisi negaranya itu memang menginginkan Indonesia tidak maju, menginginkan Indonesia hanya sebagai negara dunia ketiga. Mereka berpikir toh negara juga tak pernah mengurusi perut warganya. Atau mereka yang apatis itu hanya ingin menikmati hasilnya tanpa harus berperan. Jangan jadi rakyat yang tidak siap mengisi kemerdekaan, atau jangan jadi rakyat yang salah dalam mengisi kemerdekaan karena kemerdekaan bukan kebebasan yang tak terbatas. Untuk generasi muda jadilah rakyat yang berperan, dan banggalah untuk “mengindonesiakan Indonesia”.

Salam J#cuk
Aku Cinta Indonesia!!


schTz
03.06.2015
Share:

Selasa, 19 Mei 2015

Isra’ Mi’raj (Perjalanan sunyi Nabi Muhammad SAW)

Seperti yang kita ketahui bahwa pada tanggal 27 Rajab umat islam di seluruh dunia memperingati hari isra’ dan mi’raj. Peristiwa di mana Nabi Muhammad SAW menerima perintah secara langsung dari Allah mengenai sholat lima waktu sehari.
Isra’ dan Mi’aj adalah dua peristiwa berbeda yang dilakukan Nabi Muhammad dalam waktu sehari semalam. Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram (Mekah) menuju ke Masjidil Aqsa (Yerussalem). Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad dari bumi menuju ke langit ke tujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha (akhir penggapaian) untuk menerima perintah langsung dari Allah SWT.
Dalam Al-Quran Surat Al-Isra’ ayat 1 yang artinya :

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya Muhammad pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Agsa yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagai tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat”. (QS . Al-Isra’:1)

Hal yang menarik dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini adalah perjalanan Nabi Muhammad menuju langit ketujuh hanya dalam waktu satu malam saja. Dan tentang Mi’raj Allah menjelaskan dalam Al-Quran Surat An-Najm ayat 13-18, yang artinya :

“Dan sesungguhnya dia Nabi Muhammad SAW telah melihat Jibril itu dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat Sidratul Muntaha ada syurga tempat tinggal. Dia melihat Jibril ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm:13-18)

Dalam perjalanannya menuju langit ketujuh Nabi Muhammad bertemu Nabi terdahulu dalam setiap tingkatan langit. Dilangit pertama Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Adam A.S, di langit kedua bertemu dengan Nabi Isa dan Yahya A.S, di langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf A.S, di langit keempat bertemu dengan Nabi Idris A.S, di langit kelima bertemu dengan Nabi Harun, di langit keenam bertemu dengan Nabi Musa A.S dan di langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim A.S.


1.        Langit Tingkat Pertama
Rasullulah SAW bertemu dengan manusia sekaligus wali Allah SWT pertama di muka bumi, Nabi Adam AS. Saat bertemu nabi Adam, Rasullulah sempat bertegur sapa sebelum akhirnya meninggalkan dan melanjutkan perjalanannya. Nabi Adam membekali rasullulah dengan doa, supaya rasullulah SAW selalu diberi kebaikan pada setiap urusan yang dihadapinya. Sambil mengucapkan salam, rasullulah meninggalkan langit pertama untuk menuju langit kedua.

2.        Langit Tingkat Kedua
Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Seperti halnya di langit pertama, rasullulah disapa dengan ramah oleh kedua nabi pendahulunya. Sewaktu akan meninggalkan langit kedua, Nabi Isa dan Yahya juga mendoakan kebaikan kepada rasullulah. Kemudian rasullulah bersama Malaikat Jibril terbang lagi menuju langit ketiga.

3.        Langit Tingkat Ketiga
Rasullulah bertemu dengan Nabi Yusuf, manusia tertampan yang pernah diciptakan Allah SWT di bumi. Dalam pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan sebagian dari ketampanan wajahnya kepada Nabi Muhammad. Dan juga di akhir pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan doa kebaikan kepada nabi terakhir itu.

4.        Langit Tingkat Keempat
Pada tingkatan ini, rasullulah bertemu Nabi Idris. Yaitu manusia pertama yang mengenal tulisan, dan nabi yang berdakwah kepada bani Qabil dan Memphis di Mesir untuk beriman kepada Allah SWT. Seperti pertemuan dengan nabi-nabi sebelumnya, Nabi Idris memberikan doa kepada Nabi Muhammad supaya diberi kebaikan pada setiap urusan yang dilakukannya.

5.        Langit Tingkat Kelima
Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Harun. Yaitu nabi yang mendampingi saudaranya, Nabi Musa berdakwah mengajak Raja Firaun yang menyebut dirinya tuhan dan kaum Bani Israil untuk beriman kepada Allah SWT. Harun terkenal sebagai nabi yang memiliki kepandaian berbicara dan meyakinkan orang. Di langit kelima, Nabi Harun mendoakan Nabi Muhammad senantiasa selalu mendapat kebaikan pada setiap perbuatannya. Setelah bertemu, kemudian Nabi Muhammad melanjutkan perjalanannya ke langit keenam.

6.        Langit Tingkat Keenam
Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril bertemu dengan Nabi Musa. Yaitu nabi yang memiliki jasa besar dalam membebaskan Bani Israil dari perbudakan dan menuntunnya menuju kebenaran Illahi. Nabi Musa juga terkenal dengan sifatnya yang penyabar dan penyayang selama menghadapi kolot dan bebalnya perilaku Bani Israil. Selama bertemu dengan Muhammad, Nabi Musa menyambut layaknya kedua sahabat lama yang tidak pernah bertemu. Penuh kehangatan dan keakraban. Sebelum Nabi Muhammad pamit meninggalkan langit keenam, Nabi Musa melepasnya dengan doa kebaikan.

7.        Langit Tingkat Ketujuh
Di langit ini, Nabi Muhammad bertemu dengan sahabat Allah SWT, bapaknya para nabi, Ibrahim AS. Sewaktu bertemu, Nabi Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’muur, yaitu suatu tempat yang disediakan Allah SWT kepada para malaikatnya. Setiap harinya, tidak kurang dari 70 ribu malaikat masuk ke dalam.
Kemudian Nabi Ibrahim mengajak Muhammad untuk pergi ke Sidratul Muntaha sebelum bertemu dengan Allah SWT untuk menerima perintah wajib shalat. Sidratul Muntaha merupakan sebuah pohon yang menandai akhir dari batas langit ke tujuh. Masih dalam hadits yang sama, rasullulah SAW menceritakan bentuk fisik dari Sidratul Muntaha, yaitu berdaun lebar seperti telinga gajah dan buahnya yang menyerupai tempayan besar.
Namun ciri fisik Sidratul Muntaha berubah ketika Allah SWT datang. Bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak bisa berkata-kata menggambarkan keindahan pohon Sidratul Muntaha. Pada kepecayaan agama lain, Sidratul Muntaha juga diartikan sebagai pohon kehidupan. Di Sidratul Muntaha inilah Nabi Muhammad berdialog dengan Allah SWT, untuk menerima perintah wajib shalat lima waktu dalam sehari.
Berfirman Allah SWT : “Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai kekasih sebagaimana Aku telah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan dan Akupun memberi firman kepadamu seperti firman kepada Musa Akupun menjadikan umatmu sebagai umat yang terbaik yang pernah dikeluarkan pada manusia, dan Akupun menjadikan mereka sebagai umat wasath (adil dan pilihan), Maka ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur“.
“Kembalilah kepada umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku”. Nabi kemudian menerima perintah untuk membawa amanah Allah berupa shalat 50 waktu dalam sehari semalam untuk Nabi Muhammad dan umatnya.
Kemudian Rasulullah turun ke Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan pulang di langit keenam, beliau bertemu Musa A.S. Terjadilah percakapan di antara keduanya, Musa menanyakan apa yang dibawa Muhammad setelah menghadap Allah. Muhammad kemudian menjelaskan mengenai perintah untuk melakukan shalat 50 waktu dalam sehari semalam. Musa lantas menyuruh Muhammad untuk kembali menghadap Allah dan meminta keringanan.
Muhammad lantas kembali kehadirat Allah untuk meminta keringanan. Permintaan tersebut dikabulkan, perintah shalat diturunkan menjadi 45 kali. Setelah itu Muhammad kembali dan bertemu lagi dengan Musa. Dikisahkan Nabi Muhammad SAW sempat beberapa kali pulang pergi untuk meminta keringanan shalat, hingga akhirnya turun menjadi lima kali dalam waktu sehari semalam.
Setelah perintah shalat diturunkan menjadi lima waktu dalam sehari semalam, dikisahkan bahwa Nabi Musa masih menyuruh Muhammad untuk meminta keringanan. Tapi Nabi Muhammad tidak berani lagi melakukannya karena malu pada Allah, ia pun rela dan ikhlas dengan ketentuan tersebut. Nabi akhirnya kembali dengan membawa perintah shalat selama lima waktu yang kita kenal sebagai shalat Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya.
Seyyed Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat Islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.
Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 45, yang artinya:

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah :45)

Shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan antara seorang hamba dengan Allah. Shalat juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh kedamaian. Makanya tidak berlebihan apabila Alexis Carrel menyatakan : “Apabila pengabdian, sholat dan do’a yang tulus kepada Sang Maha pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut“. Perlu diketahui bahwa A. Carrel bukanlah orang yang memiliki latar belakang pendidikan agama, tetapi dia adalah seorang dokter dan pakar Humaniora yang telah dua kali menerima nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja dan pencangkokannya. Tanpa pendapat Carrel pun, Al–Qur’an 15 abad yang lalu telah menyatakan bahwa shalat yang dilakukan dengan khusu’ akan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang harmonis, egaliter, dan beretika.
Dengan demikian shalat sehari yang lima waktu ini jangan sampai kita tinggalkan dengan alasan apapun, kecuali pada wanita yang sedang datang bulan. Perintah shalat yang diberikan langsung dari Allah kepada Muhammad merupakan perintah ibadah yang paling utama. Seperti yang dijelaskan diatas shalat yang baik dapat mencegah perbutaan yang keji dan mungkar. Shalat dapat diajadikan umat muslim sebagai media untuk mendekatkan diri dan seoalah-olah kita bisa besrtemu dan melihat langsung Allah Sang Maha Pencipta. Kita harus berusaha menghadirkan Allah ketika sedang melaksanakan shalat jangan hanya sekedar bergerak dan membaca bacaan shalat tanpa mengetahui bahwa sesungguhnya kita sedang berkomunikasai langsung dengan Allah. Selain sebagai kewajiban utama seorang muslim shlat juga punya banyak hikmah bagi manusia yang menjalankannya, salah satunya dibidang kesehatan.
Walaupun saat ini saya juga belum bisa melakukan shalat dengan baik,  karena shalat yang baik itu berhubungan dengan keikhlasan hati kita dengan Allah. Saya pribadi tidak bisa mendefinisikan keikhlasan tersebut. Akan tetapi suatu usaha untuk melakukan ibadah dengan baik harus kita coba dan kita latih setiap harinya, agar kita bisa menjadi lebih taat dan lebih mengerti tentang diri kita dan pencipta kita. Sebagai umat beragama yang baik jadikanlah sebuah peristiwa yang ada dimuka bumi ini sebagai pembelajaran dan sebagai penambah iman. Jadilah manusia yang “tanggap sasmita”, peka terhadap sebuah peristiwa.
Semoga kita termasuk orang yang bisa menjadi lebih baik dalam setiap waktunya. Manusia adalah orang yang rugi bila tidak bisa memanfaatkan waktunya, waktu tidak akan bisa kembali. Waktu akan terus berjalan membunuhnu dengan kejam, tanpa sebuah rasa belas kasihan untuk kembali mundur kebelakang. Waktu adalah racun manis yang mematikan apabila kita tertipu oleh muslihat setan. Waktu bisa berjalan lambat dan bisa berjalan cepat, tapi waktu tidak mungkin bisa berjalan mundur kebelakang. Peristiwa Isra’ Mi’raj ini juga berhubungan dengan waktu, dan apabila ada waktu saya akan membahasnya di tulisan berikutnya. heheuu


schTz
16-05-2015
Share:

Sabtu, 16 Mei 2015

Sunyi itu bukan berarti sepi



Sepi, gelap, dan sedikit dingin, malam ini cuaca di luar gerimis dan mengurung ragaku agar tetap tinggal di rumah ini. Rasa dingin kini sudah terslamurkan dengan rokok dan kopi yang menemani kesendirianku. Malam ini tak ada bintang, tak ada angin, hanya suara gemericik air yang menetes di genting rumahku. Sang bulan tak kelihatan terangnya dia bersembunyi dibalik awan gelap di atas sana. Aku menikmati sunyi ini bukan berarti aku suka sendiri, tapi aku menikmati ini karena aku kurang suka dengan kebisingan dan keramaian yang semu. Keramain malam yang menunjukkan keangkuhan orang-orang dimana mereka terhanyut di dalam kesombonganya.
Malam ini kunikmati sunyi karena aku sedang rindu serindu-rindunya dengan nyanyian kedamaian, nyanyian alam semesta yang tak semua orang bisa peduli dengan kedamain yang alam ciptakan. Suara gemericik air hujan ini sedikit mengobatiku akan nyanyian rindu itu. Aku merindukan dongeng orang tua tentang ajaran kebaikan, tentang kehidupan. Cerita kancil “nyolong” (mencuri) timun, tentang harimau yang terjebak dalam lubang di dalam hutan. Dongeng yang sudah lama menghilang yang mana orang tua sekarang sudah malas atau terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kesehariannya sehingga lupa untuk memberikan dongeng-dongeng itu pada anak-anaknya.
Bagaimana tidak, kancil yang bertubuh kecil itu selalu bisa mengelabui pak tani, gajah, dan harimau. Pikirannya yang cerdik dan pandai kadang banyak yang ditiru oleh manusia. Manusia banyak yang menjadi kancil-kancil kecil dalam menjalani hidupnya, tepatnya mereka menjadi penjilat atas orang lain yang bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri.
Tak sedikit dari manusia-manusia itu yang kehilangan akal sejatinya bahwa mereka adalah manusia. Mereka terjebak menjadi mesin-mesin modernisasi yang mereka ciptakan sendiri. Mereka terlalu silau memandang kemewahan sebagai lambang utama dari kesuksekan hidupnya, seperti menatap kilaunya batu akik yang sedang membumi dan memainkan monopolinya di negeri ini. Kesuksesan hanya sekedar terlihat dipermukaan yang yang dilambangkan dengan harta dan jabatan, tanpa memikirkan dan peduli mengenai harta dan jabatan itu berguna baik bagi lingkungannya atau tidak, bahkan sesungguhnya kesuksesan yang mereka pamerkan itu tidak berguna bagi dirinya. Terjebak dalam sinar yang terlalu terang sehingga menyilaukan batinnya.
Kesunyian ini membuatku rindu akan ajaran Nabi besar Muhammad SAW, walaupun aku belum bisa mempelajarinya dengan baik dan serius. Aku yakin Rosullulah SAW pasti akan bersedih apabila beliau kembali lagi pada zaman sekarang, ajaran yang beliau ajarkan sudah banyak dilupakan oleh sebagian besar umat manusia saat ini. Beliau sudah susah payah membawa umat maanusia dari zaman jahilliyah ke zaman terang benderang seperti sekarang ini, bahkan sampai menyilaukan sekali zaman modern ini.
Perjuangan yang beliau lakukan banyak yang disalahartikan bahkan oleh umatnya sendiri, yaitu umat islam. Agama menjadi salah satu penyebab perceraian dan peperangan antar umat manusia, walaupun sebenarnya itu bukan mutlak masalah agama, tetapi agama dijadikan isu yang sangat sensitif di antara umat manusia.
Mereka pemeluk agama radikal memutuskan sendiri bahwa agama tanpa mereka sadari membuat kita sebagai manusia menjadi terkotak-kotak kolompok yang saling terpisah satu dengan yang lainnya. Agama dijadikan ajang pembenaran, bukan dijadikan sesuatu perbedaan yang indah dan saling menghormati satu sama lain. Bukankah hakekatnya orang beragama itu tidak saling membenci satu sama lain, bukankah kita hidup ini saling bergantungan satu dengan yang lain. Misalnya petani, mereka membutuhkan benih, pupuk, pengairan yang baik, membutuhkan penjual uttuk menjual hasil panennya, membutuhkan konsumen untuk membeli hasil panennya, kita hidup saling ketergantungan kalau dalam biologi disebut simbiosis mutualisme, saling ketergantungan yang menguntungkan.
Misalnya pak tani sebagai umat muslim, apakah harus membeli pupuk dari umat muslim juga atau apa kalau membeli sesuatu kita menanyakan agamanya dulu. Setiap agama punya batasan-batasanya sendiri dan tak perlu dibesar-besarkan sehingga menjadi masalah yang akhirnya bisa memecah belah, saling menghormati itu lebih penting. Aku rindu kedamaian, aku membayangkan jika manusia itu bisa melepaskan jubah kesombongannya, pasti dunia ini akan lebih hijau dan akan terlihat seperti surga.
Gelap yang menyelimuti langit membuatku bertanya dalam hati, apakah ada makhluk lain yang hidup selain di planet bumi?. Aku melihat semesta ini begitu luas, dan kebanyakan manusia hanya berfokus pada masalah di bumi, aku meresa sebagai manusia adalah makhuk yang kecil dibanding semesta yang membentang di atas langit sana. Eitss kita tidak tahu adalah bumi itu terletak di atas atau di bawah langit, karena bumi itu bulat, yang aku tahu kita ada di dalam susunan langit ciptaan-Nya.
Apakah planet-planet lain juga berpenghuni dan memilik aturan seperti di bumi. Apakah planet lain di alam semesta ini seindah bumi. Aku tak akan mencari jawaban itu, ilmu dan pikiranku terbatas pada raga yang berpeluh dan berkeringat ini. Aku ini cuma seperti bakteri berebut mencari makan dan membentuk spora-spora yang mengotori kopi hitam ini. Aku hanya sebuah bakteri dari serbuk kopi yang sudah membusuk dan dituangkan kedalam lautan yang disebut semesta. Aku tak lebih besar dari itu, aku tak lebih besar dari buih-buih yang disapu ombak di pantai.
Akhirnya aku pun bisa tertawa, dalam dunia yang sempit dan dalam waktu relatif  seperti dalam teori einsten dengan segala keriuhan dan kesombonganya, manusia rela meninggalkan sunyi yang hadir sebentar dalam setiap malamnya, untuk tidak merenungkan tentang diri, alam semesta, dan penciptanya. Manusia sibuk memikirkan perutnya, dan bahkan lupa bahwa isi perut itu harus mereka buang setiap paginya, jadi percuma kalau manusia terlalu sibuk untuk memikirkan sesuatu yang akan dibuangnya. Sunyi itu ibarat senja,  akan hilang begitu saja bila tak merasakan kehadirannnya.
Dan sebagai penutup aku hadirkan sunyi dalam sebuah puisi

                                                Sunyi
Malampun jadi bisu, ketika kita tinggalkan yang namanya kalbu
Malampun jadi haru, ketika kita bisa rasakan Tuhan dalam kalbu
Hanya sedikit tetesan rindu
Sunyi ini akan jadi indah jika ingat kebesaranMu
Siang terlalu sibuk untuk sesuatu, seperti mesin-mesin yang tak berkalbu
Manusia lupa dengan amanahnya
Manusia lupa dengan kewajibannya
Manusia kini hanya menjadi sebuah mesin pendorong bagi hawa nafsunya
Kembalilah wahai manusia
Kembalilah menjadi penjaga bumi, bukan perusak bumi




schTz
     11-04-2015
Share:

Senin, 13 April 2015

Burung (dalam) Sangkar



Kau terkurung, tapi kau merasa bebas
Kau tak bergerak bebas, tapi kau merasa puas
Tak perlu mencari makan
Itu yang kulihat dari gerakanmu
Tak perlu mencari minum
Itu yang kudengar dari kicaumu

Kau berteriak dalam batinmu, kau ingin bebas
Terbang melayang mengikuti dan melawan angin
Tapi, tapi kau tak bisa
Kau tak bisa dan tak mau lepas dari tawaran
Tawaran kemanjaan dari penguasamu
Kau tak berani
Kau tak berani mencoba meneriakkan itu
Karena kau tak bisa berteriak, kau cuma bisa berkiau
Kau tak bisa melawan
Karena kau hanya seekor burung (dalam) sangkar


schTz
11-04-2015
Share:

Cerita Tentang Pagi



Hijau berhias kuning, hamparan sawah menghiasi mata
Tak ada hama ataupun cela, semua sejajar berdampingan
Simbol kerukunan masyarakat desa
Yang semakin lama semakin tak terlihat seiring bergantinya sawah menjadi rumah
Pagi ini hanya ada embun di pujuk daun
Pagi yang biru dengan langit yang cerah
Gunung pun terlihat gagah dan megah dari kejauhan
Memaku bumi dengan kesombongan manusia diatasnya

Manusia berpijak dan acuh terhadap alam yang sedang tersenyum
Hijau, biru, kuning, dan putih embun jadi satu
Manusia hanya peduli ketika alam marah
Coklat, merah, hitam, abu-abu, dan kilat petir menyapa
Lantas dimana rasa syukur kita
Ketika alam sedang indah-indahnya

schTz
21-02-2015
Share: