Tampilkan postingan dengan label J#ncuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label J#ncuk. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2015

Indonesia, Negeri J#ncuk yang kucinta! (part 2)



Indonesia, yang terlintas dipikiran saya adalah Indonesia Raya. Raya artinya besar, Indonesia adalah negeri yang besar dengan luas kurang lebih 5.193.250 km² yang mencakup daratan dan lautan. Hal tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara terluas ke-7 di dunia setelah 6 negara lainnya, yaitu Rusia, Kanada, Amerika Serikat, China, Brasil dan Australia. Jika dibandingkan dengan luas negara-negara yang ada di Asia, Indonesia berada diperingkat ke-2. Sedangkan jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara terluas di Asia Tenggara.
Tentang Indonesia Raya, coba tanyakan pada diri kalian sendiri kapan kalian terakhir mendengar dan menyanyikan lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya”. Sejanak, mari kita nyanyikan lagu “Indonesia Raya” dalam hati.
                       
                         “Indonesia Raya”

Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru, Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku, Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka, Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka, Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka, Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka, Hiduplah Indonesia Raya

Apa yang terasa ketika kita mendengar atau menyanyikan lagu kebangsaaan ini. Kalau saya sendiri ketika mendengar atau menyanyikan lagu ini pasti saya akan merasa sedemikian prihatinnya, mengalahkan prihatinya pohon jati yang meranggas di musim kemarau yang menunggu jatuhnya air hujan. Negara sebesar ini dengan kekayaan sember daya alam yang melimpah, tak bisa menjadikan rakyatnya makmur, negara dengan begitu banyak kebudayaan akan tetapi tak bisa membuat anak mudanya bangga untuk berbudaya dengan bangsanya sendiri, Apa yang salah Cuk dengan bangsamu??

Pada suatu sore di sebuah cakruk (gubuk) di pinggir sawah, matahari masih terasa panas, semilir angin menggesekakan butiran-butiran padi yang sudah menguning. Daun-daun randu yang berserakan di jalan mengalunkan irama keindahan alam desa yang tenang dan tentram, tapi di balik ketenangan dan ketentraman itu beberapa pemuda desa yang sedang merasakan keresahannya.
Gareng            : Gong , reneo tak kandani delok’en sawah-sawah neng desone dewe iki, sing do nggarap mung wong tuwo2 tok . (Gong, coba kamu kesini, Lihat sawah- sawah di desa kita ini yang mengolah dna menanam padi hanya orang tua saja).
Bagong           : Iyo Reng, saiki cah enom2 yen nyawang sawah kui koyo nyawang mantan yange sing lagi gandengan karo yange sing anyar, do jijik, gilo, lan mangkel, luwih becik  ora nyawang. Sok’e sawah2 wes raiso jamin kesenengane arek2 nom kui, heheuu. (Iya Reng, sekarang anak muda kalau melihat sawah itu semacam melihat mantan pacarnya yang sedang bergandengan dengan pacar barunya, mesti mangkel, lebih baik tidak melihatntnya. Mungkin sawah2 itu sudah tidak menjamin rasa senang anak2 muda, heheuu).
Gareng            : Hahahaha (tertawa terbahak bahak dengan raut muka ngejek), Itu kan kamu gong, ya kamu jangan cuthat gitu to gong, jangan bandingkan sawah dengan mantan pacarmu, yang berlalu biarlah berlalu. Gini Gong padahal dulu kan para penjajah tanah air kita ini datang negeri kita ini karena mereka terpincut akan kekayaan dan kesuburan tanahnya. Mereka mengincar hasil bumi negeri kita ini yang dikenal sangat baik kualitasnya. Tapi, lihatlah gong sekarang malah bangsa ini mengesampingkan bahkan meninggalkan tanah-tanah garapan mereka yang subur ini. Tak sedikit gong sawah dan tanah garapan yang subur berubah menjadi perumahan dan pabrik-pabrik. Lihat Gong di desanya Pak Lik mu Togog itu sudah berdiri pabrik textile yang sedemikian besarnya, warganya hanya rela menjadi buruh pabrik di situ. Limbahnya mengalir kesungai-sungai, sungai yang dulu jernih dan bening, sungai yang dulu waktu kita kecil biasa mancing ikan Bawal, Kuthuk, Wader sekarang berubah menjadi sungai coklat dan penuh sampah. Begitu juga gong di desanya  Budhemu Cangik sudah ada perumahan yang begitu megahnya yaitu Astina Pura Regency namanya seperti nama kerajaan pandawa, kamu tahu kan gong. Di Astina Pura Regency ini juga dihuni oleh manusia elit manusia yang mengaku modern dan kaya tetapi mereka lupa menjadi manusia karena mereka tak pernah bersosialisai, mereka tak pernah tau anak tetangganya itu kelas berapa dan sekolah dimana. Dan parahnya tetangganya meninggal saja mereka tidak tahu, malah kematian artis ibukota mereka tahu dan turut berduka cita. Hemmmm, J#ncuk!!
Bagong           : Tapi kan, orang-orang kota itu butuh gubuk untuk bercinta dengan istrinya, walau terkadang ada juga yang bercinta dengan yang bukan istrinya, heheuu. Selain itu mereka juga butuh bangunan yang disebut pabrik untuk melangsungkan kebutuhan perutnya Reng. Kebutuhan perut anak cucunya nanti makanya mereka bangun pabrik, toh kan tidak ada salahnya juga Reng. Dengan adanya pembangunan dan perumahan juga bisa menyerap tenaga kerja lho.
Gareng            : Iya juga sih reng pernyataanmu itu betul, akan tetapi bila semua itu pada porsinya tidak melebihi dan ada regulasi juga dari pemerintah agar mereka tidak sembarangan mengambil alih fungsikan lahan yang subur dan pruduktif menjadi lahan yang mati begitu saja. Harus disesuaikan dengan keadaan alam desanya. Apa kamu tahu ijin pengalihan fungsi lahan itu benar-benar ada aturanya. Di daerahnya bude Cangik itu perumahan dibangun secara masif dan tak terkontrol bisa menyebabkan iklim yang tidak sehat Gong. Dulu itu kita dikenal bangsa agraris, bangsa yang bisa memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri, dulu itu ada program swasembada pangan. Sekarang untuk kebutuhan pangan saja kita tiap tahun impor. Kita juga tidak tahu kan gong kebijakan impor itu benar-benar memang kita kekurangan bahan pangan atau Cuma kong kalikong saja. Kita kan cuma tahu dari media massa, dimana sekarang ini media massa juga butuh memenuhi isi perutnya, jadi berita benar atau salah, mendidik atau membodokan, bermanfaat atau mudharat, mereka sudah tak perduli, yang penting berita itu laku, Iya kan Gong?. Tidak sedikit masyarakat kita ini terhipnotis dan terpengaruh pikirannya dengan berita yang belum tentu kebenaranya, banyak yang menelan mentah2 berita dari media massa, bahkan yang lebih parahnya jika berita itu menyangkut SARA banyak yang langsung kebakaran jenggot dan dipikiranya hanya membalas dendam dan mengutuk tindakan itu. Media itu berperan besar untuk mempersatukan atau menceraiberaikan keanekaragaman bangsa Indonesia. Media juga berperan penting untuk mencerdaskan atau membodohkan masayarakat. Lihat sekarang media lebih berperan sebagai apa?, untung saja gong saya ini orang yang mereka anggap gaptek, jadi pikiran saya ini lebih merdeka dari mereka yang mengaku up to date. Up to date apa asu ra ndedet ya Gong, heheuu.
Bagong           : Yoi gong asu-asu sing golek duit kadang ngobrak abrik sampah yang sudah dibuang pada tempatnya, mereka malah menyebarkan sampah itu demi mencari tulang, sampah mereka jejalkan pada pikiran pikiran kosong masyarakat. Mengenai bangsa Indonesia yang akan berulang tahun ke 70 tahun ini, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita untuk membuat bangsa ini menjadi mandiri dan percaya diri seperti elang yang terbang dan berdiri gagah dengan kakinya sendiri. Para leluhur kita sudah bersusah payah mengorbankan segenap jiwa dan raganya untuk membawa bangsa ini merdeka. Sebagai generasi muda kita harus mau berpartisipasi untuk menyumbangkan ide dan tindakan sesuai dengan keahlian kita masing2. Apa keahlianmu Reng??
Gareng            : Kamu ga tau keahlianku Gong, aku itu ahli dalam merahasiakan apa keahlianku, aku diajarkan untuk tidak memamerkan apa yang bisa aku perbuat gong, aku gak mau nanti menjadi sombong kalau aku sudah berbuat sesuatu.
Bagong           : Alesan, buktinya aku lihat kamu masih dledar dleder kesana kemari kayak penggangguran ...

Senja diufuk barat sudah mulai merekah terlihat indah warna jingganya, pertanda malam akan segera menggantikan siang, malam akan menghampiri kesunyian desa-desa yang ditinggal oleh anak2 mudanya, angin semilir sudah mulai terasa dingin. Terlihat dengan sepeda kumbang pemuda bernama Petruk menghampiri Gareng dan Bagong.

Petruk             : Hehhhh, J#ncuk kalian ini disuruh mencari bambu untuk masang umbul2 di balai desa, tak lihat malah asik udat-udut sambil cerita ngalor ngidul di cakruk ini. Ayo bambunya di bawa dan dipasang di balai desa, Kalian sudah dicari Pak RT Semar. Bangsa ini tidak akan berubah jadi apapun kalau kalian hanya punya ide tapi tak direalisasikan, saat ini kan slogannya kerja kerja kerja jangan cuma ngomong tok kayak sebagian anggota Dewan di senayan. Umbul2 sebelum magrib harus sudah terpasang, karena nanti malam kita masih ada tugas ngecat jalan cuk.
Siap Pak Ketua ( Gareng dan Bagong teriak bersama)....!!!!!

Mungkin ilustrasi cerita di atas juga dialami sebagian kecil pemuda Indonesia yang tidak mau bangsa Indonesia ini kehilangan harga dirinya dihadapan bangsanya sendiri. Saya juga merasa bahwa penjajahan ini belum berakhir penjajahan seduah berubah bentuk dari penjajahan secara fisik menjadi penjajahan yang berupa mental dan pola pikir.
Pada bulan agustus, bulan dimana bangsa Indonesia melalui Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Mungkin sudah menjadi garis Tuhan, bom di Hirosima dan Nagasaki Pada tanggal 6 Agustus 1945 menyebabkan jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu tanggal 15 Agustus 1945. Bom tersebut di luncurkan oleh Amerika karena jepang lebih dulu menyerang pangkalan laut Amerika Pearl Harbour. Setelah diketahui bahwa jepang sudah menyerah tanpa syarat kepada sekutu, menyebabkan terjadinya vacum power di Indonesia, artinya tidak ada pemerintah yang berkuasa. Oleh karena itu para kelompok pemuda memaksa Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Proses lebih detailnya bila kalian baca lagi di buku2 sejarah Indonesia.
Bulan agustus dimana untuk menyambut HUT kemerdekaan RI, warga negara di seluruh penjuru tanah air mengadakan berbagai acara untuk memperingatinya ada lomba, ada jalan sehat, ada sepeda santai, dan lain sebagai, dan biasanya sebagai puncak acaranya adalah malam tirakatan malam sebelum tanggal 17 Agustus. Walaupun ada juga warga yang tidak merayakan HUT RI, dan ada juga yang merayakanya tapi ruh dari perayaan dan mengingat kembali perjuangan para luluhur sudah tidak ada, perayaan HUT RI disamakan dengan perayaan ulang tahun anak2, heheuu
Hanya hura-hura dan senang-senang, banyak yang mengartikan kemerdekaan bangsa ini dengan kemerdekaan untuk dirinya sendiri,  kemerdekaan yang jauh dari merdeka, karena sebetulnya mereka hanya memuaskan hawa nafsunya. Seorang belum bisa dikatakan merdeka kalau masih dikauasai hawa nafsunya.
Mungkin pemerintah seharusnya memberi contoh bagaimana perayaan puncak HUT kemerdekaan RI, ada syarat wajib yang harus dilakukan untuk mengenang jasa pahlawan, misalnya dongeng tentang perjuangan para leluhur dimana hal itu dapat menjadikan kita dan anak-anak bahwa perjuangan itu sulit dan kita sebagai generasi penerus bangsa harus mengisi kemerdekaan ini dengan hal2 yang positif dan membawa kemakmuran bagi seluruh masyarakat. Bukan cuma acara makan2, nyanyi2, dan joget2. Atau mungkin juga harus diakan upacara kecil-kecilan di balai setiap RT atau RW pesertanya ya warga dengan sukarela, agar kita lebih cinta lagi terhadap Indonesia. Ahh itu bukan jaminan juga, di setiap institusi pemerintah yang selalu mengadakan upacara bendera tanggal 17 Agustus, banyak juga pegawai yang masih melakukan tindakan yang jauh dari memajukan bangsa yaitu korupsi. Ada salah dengan bangsamu Cuk??
Sebagai penutup kupersembahkan puisi berjudul “Indonesiaku”

Indonesiaku

Wahai Indonesiaku
Tujuh puluh tahun Kau telah merdeka
Berkibarlah merah putihmu untuk selamanya
Berkibar diseluruh penjuru nusantara
Tunjukkan Kau kuat diterjang hujan dan petaka

Wahai Indonesiaku
Telah gugur ribuan pahlawan untuk membelamu
Mereka berjuang dan tak kenal waktu
Mereka serahkan jiwa dan raganya untukmu
Mereka angkat senjata untuk mengusir penjajahmu
Dan mereka teriakkan Merdeka..Merdeka..Merdeka
Untuk Indonesiaku

Merdeka..
Tujuh puluh tahun bangsa ini merdeka
Merdeka secara apa??, kalau ternyata tak mengerti maknanya
Korupsi dimana-mana, menggerogoti kekayaan bangsa dan negara

Merdeka..
Inikah cita-cita pahlawan dan pendiri bangsa???
Ohhhh, Walaupun Negeri ini J#ncuk
Aku tetap mencintai Indonesiaku

Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 70, ayo kerja dan berkarya untuk membangun bangsa.
#RI70


schTz
17.08.2015
Share:

Rabu, 10 Juni 2015

Indonesia, Negeri J#ncuk yang kucinta! (part 1)



Saya menyebut judul diatas negeri bukan sebagai negara, karena negeri menurut saya tidak terikat aturan formalitas seperti negara. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), negara berati (kata benda dan kata sifat) suatu organisasi dari suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi sah dan ditaati rakyat, yang memiliki batas-batas wilayah yang formal. Kata negara berkaitan dengan sudut pandang politik dan pemerintahan. Sedangkan negeri berati (kata benda dan kata sifat) sebagai tanah tempat tinggal suatu bangsa, kampung halaman, kata negeri berkaitan dengan ilmu geografi.
Jancuk menurut Sujiwotejo “Jancuk” itu ibarat sebilah pisau. Fungsi pisau sangat tergantung dari user-nya dan suasana psikologis si user. Kalau digunakan oleh penjahat, bisa jadi senjata pembunuh. Kalau digunakan oleh seorang istri yang berbakti pada keluarganya, bisa jadi alat memasak. Kalau dipegang oleh orang yang sedang dipenuhi dendam, bisa jadi alat penghilang nyawa manusia. Kalau dipegang orang yang dipenuhi rasa cinta pada keluarganya bisa dipakai menjadi perkakas untuk menghasilkan penghilang lapar manusia. Begitupun “jancuk”, bila diucapkan dengan niat tak tulus, penuh amarah, dan penuh dendam maka akan dapat menyakiti. Tetapi bila diucapkan dengan kehendak untuk akrab, kehendak untuk hangat sekaligus cair dalam menggalang pergaulan, “jancuk” laksana pisau bagi orang yang sedang memasak. “Jancuk” dapat mengolah bahan-bahan menjadi jamuan pengantar perbincangan dan tawa-tiwi di meja makan.
Jancuk merupakan simbol keakraban. Simbol kehangatan. Simbol kesantaian. Lebih-lebih di tengah khalayak ramai yang kian munafik, keakraban dan kehangatan serta santainya “jancuk” kian diperlukan untuk menggeledah sekaligus membongkar kemunafikan itu (Sujiwotejo).
Menurut Kamus Daring Universitas Gadjah Mada , istilah “jancuk, jancok, diancuk, diancok, cuk, atau cok" memiliki makna “sialan, keparat, brengsek (ungkapan berupa perkataan umpatan untuk mengekspresikan kekecewaan atau bisa juga digunakan untuk mengungkapkan ekspresi keheranan atas suatu hal yang luar biasa)”.
Kata jancuk bila di telusur dari sejarahnya sangat panjang dan saya tak akan menjelaskannya di tulisan ini. Saya tulis Indonesia Jancuk karena subuah keheranan saya atas negeri ini. Indonesia adalah tanah yang sangat saya cinta negeri besar yang selalu mengundang keheranan saya kenapa negeri ini tidak bisa maju. Apa mungkin kata juncuk ini mempengaruhimu, untuk sesuatu yang positif tentunya, heheuu.
Indonesia sebuah negara besar, dengan penduduk yang banyak, beragam kebudayaan sosial, dan bermacam kekayaan alam. Akan tetapi kita selalu merasa kecil dan kurang percaya diri dengan sebuah negara besar ini. Indonesia itu lahir sebelum kemerdekaan di proklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Indonesia yang berada dalam jalur sutra perdagangan Tiongkok sejak jaman kerajaan dulu sudah banyak dilirik oleh penjajah yang ingin menguasai Indonesia. Tidak hanya itu mereka juga mengincar hasil alam dari indonesia yang berupa rempah-rempah. Rempah-rempah di Indonesia sejak dulu dikenal baik dan bisa menghasilkan dalam jumlah yang cukup banyak.
Selain kekayaan alam Indonesia juga memiliki keindahan alam yang sangat menakjubkan karena terletak diantara garis khatulistiwa, iklim tropis yang begitu menyenangkan banyak orang yang ingin menikmati keindahan alam Indonesia. Menikmati sinar hangat matahari di Indonesia. Ini justru kebalikan bagi orang Indonesia mereka terlalu malu untuk menikmati keindahan alam Indonesia, banyak dari kita yang justru malah bangga dengan keadaan di luar negeri dan berwisata di luar negeri. Mungkin karena gengsi dan biaya yang lebih murah.
Lihat indahnya laut indonesia seperti di wilayah bali, lombok, borneo, karimun jawa, raja ampat, dan pantai2 lain yang tersebar di wilayah selatan pulau jawa ataupun yang pulau lainnya. Pantai yang menjadi simbol keindahan alam tanah air kita, hanya dijadikan sebagai ajang untuk liburan untuk wisata secara lariyah. Mereka yang berlibur ke pantai datang air bermain pasir, seperti buih mereka hanya datang untuk melepas kesumpekan yang mereka rasakan dalam kesehariannya.
Keindahan pantai itu tak benar benar mereka nikmati secara batianiah, bahwa laut dan pantai itu mencirminkan keadaan semesta yang begitu luasnya. Kita hanya ibarat buih di pantai dengan lautan yang luas. Betapa kecilnya kita, tapi kenapa masih juga sombong. “(Manusia itu ibarat buih yang hanya beriuh rendah di pantai tanpa menyadari adanya lautan. Seperti bumi ini hanya bagian kecil dari alam semesta)”. Bahkan keindahan pantai yang mereka nikmati itu tidak dijaga, banyak yang meninggalkan sampah di pantai tanpa mereka sadari itu bisa merusak keindahanya.
Alasan untuk pergi berwisata ke alam adalah untuk menikmati ciptaan Tuhan untuk mengakui keindahan ciptaan Tuhan, tapi mereka mengingkari itu banyak yang malah justru merusaknya. Lawong dalam keseharian saja banyak yang meninggalkan rumah Tuhan (rumah ibadah), kok kalau berwisata ngakunya mau menikmati alam yang indah ciptaan Tuhan, Apa gak Jancuk itu namanya???.
 Negara besar dengan sejuta kesemrawutanya ini belum cukup dewasa untuk mengetahui dirinya, orang-orang penting yang ada di dalam negeri ini masih sibuk mencari nama untuk diri dan golongannya. Hanya sesekali bicara tentang keindahan indonesia. Sedikit bumbu atas nama rakyat dan kemakmuran, mereka mengeruk keuntungan dari program yang akan mereka jalankan, dan tak banyak yang bisa mengevaluasi program-program kerja yang akan mereka jalankan itu apakah mengenai sasaran tentang kemakmuran atau tidak.
Negara memungut pajak dari rakyatnya, dan pemungutan yang besar itu berasal dari perusahaan yang ada di Indonesia, tapi tidak sedikit perusahaan yang mempermainkan pungutan pajaknya yang untuk kesejahteraan karyawanya, itu pembelaan perusahaan berdasarkan tax planning yang pernah saya pelajari dulu. Tax planning di negeri ini memang legal tapi menurut saya itu celah melegalkan suatu yang ilegal, heheuu.
Pajak dan kekayaan alam Indonesia sebenarnya sudah sangat cukup untuk membuat masyarakat indonesia adil dan makmur secara merata, kalau saja pelaksanaanya benar sesuai dengan konstitusi negara kita. Uang pajak seharussnya bisa menyediakan fasilitas yang bisa merangsang kreativitas warga negara terutama anak muda, berikan ruang untuk berekspresi bukan ruang untuk berkorupsi.
Atas nama kemakmuran tidak sedikit dari masyarakat kita yang mengejar kemakmuran sampai ke luar negeri walaupun dengan ilmu dan keahlian yang pas-pasan sebut saja Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Dengan iming – iming gaji yang besar mereka bersedia pergi menjadi TKI. Andai saja negara di dunia ini seperti negara – negara di eropa yang tidak menerima TKIvmungkin saja Indonesia sudah jadi negara maju, karena Indonesia tidak bisa mengekpor komoditi berharganya yaitu TKI ke luar negeri.
Tanah yang subur ini, saat ini banyak dipercayakan pengelolaannya kepada orang – orang asing, perusahaan besar di Indonesia banyak di miliki orang asing. Masyarakat kita hanya jadi pembantu di negeri sendiri, mungkin TKI itu menganggap lebih bermartabat jadi pembantu di negeri orang dari pada jadi pembantu di negeri sendiri. Ini sangat ironis, seharusnya pemerintah bisa lebih menciptakan banyak peluang dan lapangan kerja bagi mereka karena Inonesia ini adalah negeri yang subur.
Pemerintah harus bisa mencetak pengusaha – pengusaha muda, jadikan profesi petani dan nelayan itu profesi yang lebih unggul dari pada Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selama ini terlalu banyak uang negara habis untuk mensejahterkan aparaturnya sehingga lupa mensejahterakan rakyatnya. Ciptakan iklim yang bisa membuat anak mudanya tidak bermalas-malasan dan tidak bergantung dengan pendidikan formal mereka.
Masyarakat negeri ini terlalu sibuk memikirkan isi perutnya sendiri, saat lapar saja sudah tidak peduli apalagi ketika kenyang mereka semakin lupa dengan tanggung jawab untuk negerinya. Tempat dimana mereka tinggali hanya jadi sebuah tempat berpijak tanpa ada rasa ingin merawat dan menjaga alam termasuk peduli dengan orang lain. Mereka hanya bisa merusak dan merusaknya. Rusaklah semua, negeri dengan air yang berlimpah kini banyak yang kekuarangan air bersih, negeri dengan sawah yang luas kini banyak impor beras, negeri yang luas dengan pemikirin sempit masyarakatnya, negeri surga ini sepertinya mau direbut dengan cara pembodohan masyarakat secara perlahan lahan. Kita tak mau itu terjadi tapi perilaku kita mendukung itu terwujud. Damn!!
Sebagai contoh buang sampah sembarangan, kita sering kali tak peduli dengan sempah sekecil apapun ketika musim kemarau, akan tetapi saat musim hujan tiba sampah-sampah yang menumpuk itu bisa menyebabkan banjir dan kerusakan lingkungan. Dan ketika banjir itu datang alamlah yang dijadikan kambing hitam, bukannya dijadikan introspeksi. Itulah yang selalu terjadi setiap tahunnya. Kemudian kita baru peduli dan bergotong royong untuk membersihkan sampah.
Seharusnya negeri ini masif dalam mengampanyekan gerakan jangan buang sampah sembarangan, bukannya masif kampenya dalam pemilihan caleg saja. Lawong batu akik saja bisa menjamur di negeri ini, kenapa kampenya jangan buang sampah sembarangan tidak bisa. Apa gak jancuk itu namanya??
Ada sebuah cerita tentang sampah dari temen saya, nama panggilanya “babe”. Rambutnya yang kriting dan tingkahnya yang unik dan berkomitmen terhadap suatu masalah yang mungkin remeh bagi orang lain. Pernah suatu ketika dia bercerita, saat berada di loker perusahaan tempat dia bekerja, dia selalu memunguti sampah plastik bekas makanan atapun bungkus permen disekitar tempat itu dan membuangnya di tempat sampah. Dan ketika itu juga ada seorang temannya yang menyeletuk “mbok biaran aja sampahnya di situ, lagian juga ada petugasnya yang memunguti sampah, kamu ga usah repot-repot” (kalimat itu diucapkan dalam bahasa jawa). Tak hanya itu orang2 disekitarnya juga melihat dengan penuh keheranan, dan mungkin berkata dalam hati “orang yang aneh”.
Si babe itu pun tak menggubris pernyataan temannya, malah sampah plastik bekas makanan yang masih berserakan di sekitar tempat sampah dia punguti dan dimasukkan dalam tempat sampah. Sampai saat ini setelah saya konfirmasi dia masih melakukan hal itu dan dia juga suka mengantongi bungkus permen yang dia makan ketika tak ada tempat sampah, dan membuangnya selagi nemu tempat sampah. Dari contoh kecil si babe tadi dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa melakukan hal yang baik dan itu malah dianggap tabu oleh orang di sekitar kita. Suatu hal yang salah akan menjadi benar ketika itu terus menerus dilakukan, dan hal kebenaran yang sejati akan menjadi salah. Apa ga jancuk masyarakat yang seperti itu??? dan mungkin saya juga termasuk masayakarat yang jancuk itu tapi tipis, heheuu.
Sampah suatu yang remeh temeh tapi penting. Coba bayangkan jika di pemukimanmu tidak ada tukan sampah keliling yang bersedia membuang sampah raumah tanggamu. Pasti kalian akan membuang sampah itu di kali (sungai), itu tidak menyelesaikan msalah tapi malah menambah masalah. Masih ada lho warga yang membuang sampah rumah tangganya di kali (sungai). Kok ga ada petugas yang berwenang yang memberitahu dan menegurnya. Hei para pamong negara buatlah aturan yang mengikat tentang membuang sampah terutama sampah rumah tangga.
Selain belum dewasa, negeri ini juga latah, salah satu contoh latah yang paling hidup yang konsumerisme. Budaya konsumtif sudah melekat pada masayarakat kita. Kita membeli sesuatu barang bukan untuk menikmati fungsi barang itu tapi justru lebih banyak ingin pamer dan buat gaya2an biar keliatan gaul dan modern. Bersaing untuk menjadi manusia yang super modern dan tidak ketinggalan jaman dengan menerobos etika-etika yang ada. Latah budaya dan bahasa, kita tahu akhir-akhir ini banya budaya luar negeri yang masuk ke indonesia, salah satu yang paling berpengaruh adalah K-pop. Budaya dari negeri gingseng itu secara masif masuk ke Indonesia tanpa bisa kita filter.
Selain budaya dari negeri gingseng, budaya dari India akhir-akhir ini menyerbu kedalam media di tanah air. Cerita tentang wayang Ramayana dan Mahabharata dibungkus secara modern dan menarik perhatian kalangan pecinta sinetron, menurut saya bukan karena ceritanya tapi karena pemainnya. Cerita wayang Ramayana dan Mahabharata di Indonesia ini saya yakin lebih menarik karena ada sosok punokawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) yang lucu dan penuh nasihat yang selalu menjadi tokoh dalam “goro-goro”. Cerita wayang dari tanah airpun sekarang semakin sedikit orang yang mengenalnya. Mungkin karena sangat terbatasnya ruang dan media untuk mementaskanya. “Trok tok tok tok biaya mengundang dalang mahal harganya cuk”, (terdengar suara aneh yang masuk dalam pikiranku).
Masyarakat menganggap budaya luar itu keren, gaul, modern, la “ndasmu” itu yang keren, bangga kok dengan budaya orang lain, tanpa kamu mengerti budaya kita sendiri, tanpa kamu kenal budaya kita sendiri, atau mungkin memang budaya kita yang tidak memeperkenalkan diri semasif budaya korea. Apa hal seperti ini ga jancuk namanya?. Atau, mungkin mereka menganggap budaya kita itu kuno. Kita punya seabrek budaya yang kalau dipelajari akan lebih lama dari pada mempelajari terpisahnya korea jadi dua bagian utara dan selatan.
Gadget dan smartphone banyak yang tidak digunakan sebagai mana fungsinya yang utama, banyak dari kita yang hanya menggunakanya pada takaran fungsi yang bukan utama. Padalah provider di negara ini belum siap menyambut kehadiran smartphone yang fungsi dari benda itu berbasis internet.
Bermacam informasi bisa kita peroleh dengan cepat, secepat kilat sebelum guntur datang menggelegar. Banyak dari kita yang memporelah informasi itu di telan mentah-mentah, tidak jelas sumber kebenaranya, pokoknya langsung kita terima dan bahkan langsung pula kita sebarkan semacam gosip. Lhah memangnya kalian ini presenter berita atau atau infotainment kok main sebar menyebar informasi seperti kalau di media sosial namnya broadcast message. Jadilah pengguna smarphone yang cerdas, jangan cuma ikut-ikutan. Sepertinya kata “we live in the era of smartphone and stupid people”.
 Tak jarang pula informasi yang belum jelas kebenaranya itu memacu timbulnya konflik. Dan terkadang media justru memperbesar konflik tanpa ada penyelesain bersama yang jelas dan saling merangkul. Media hanya menggambarkan perbedaan-perbedaan informasi atau pendapat yang ga jelas arahnya untuk sebuah persatuan.
Televisi yang selalu menyiarkan budaya negara lain, itu salah satu contoh pembodohan masyarakat. Pemerintah tidak memfilternya, ini mendorong terkikisnya nilai budaya bangsa Indonesia, kita bangsa yang mempunya ratusan bahkan ribuan budaya yang tak dibina atau diberi kesempatan lebih untuk bisa tampil di negerinya sendiri. Justru malah budaya asing yang diberi posisi lebih untuk bisa memperkenalkan diri.
Tayangan televisi yang sudah tidak lagi mempedulikan aspek budaya lokal, televisi yang hanya hanya mementingkan perutnya sendiri. Banyak program televisi yang tak mencerminkan Aku Cinta Indonesia. Mungkin bagian luarnya mereka bungkus dengan aspek budaya Indonesia tapi isi cerita sama sekali melenceng dari budaya masyarakat Indonesia.
Tanah air yang kucintai ini tidak bisa menjadi maju oleh satu atau sekelompok orang yang peduli dengan Indonesia, harus ada peran dari semua warga negara. Peradapan suatu bangsa dapat dirubah dengan semua dukungan dan peran serta rakyatnya. Kekecewaan terhadap pejabat negara dan pemerintahan jangan dijadikan sikap apatis terhadap bangsa dan negara ini. Melalui budaya kita bangun kembali Indonesia jadi lebih baik dan maju. Melalui peran serta sesuai dengan keahlian kita masing-masing, wujudkan Nusantara yang sejahtera.
Akan tetapi terkadang saya berpikir warga yang tak peduli dengan kondisi negaranya itu memang menginginkan Indonesia tidak maju, menginginkan Indonesia hanya sebagai negara dunia ketiga. Mereka berpikir toh negara juga tak pernah mengurusi perut warganya. Atau mereka yang apatis itu hanya ingin menikmati hasilnya tanpa harus berperan. Jangan jadi rakyat yang tidak siap mengisi kemerdekaan, atau jangan jadi rakyat yang salah dalam mengisi kemerdekaan karena kemerdekaan bukan kebebasan yang tak terbatas. Untuk generasi muda jadilah rakyat yang berperan, dan banggalah untuk “mengindonesiakan Indonesia”.

Salam J#cuk
Aku Cinta Indonesia!!


schTz
03.06.2015
Share: