Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Mei 2015

Isra’ Mi’raj (Perjalanan sunyi Nabi Muhammad SAW)

Seperti yang kita ketahui bahwa pada tanggal 27 Rajab umat islam di seluruh dunia memperingati hari isra’ dan mi’raj. Peristiwa di mana Nabi Muhammad SAW menerima perintah secara langsung dari Allah mengenai sholat lima waktu sehari.
Isra’ dan Mi’aj adalah dua peristiwa berbeda yang dilakukan Nabi Muhammad dalam waktu sehari semalam. Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram (Mekah) menuju ke Masjidil Aqsa (Yerussalem). Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad dari bumi menuju ke langit ke tujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha (akhir penggapaian) untuk menerima perintah langsung dari Allah SWT.
Dalam Al-Quran Surat Al-Isra’ ayat 1 yang artinya :

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya Muhammad pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Agsa yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagai tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat”. (QS . Al-Isra’:1)

Hal yang menarik dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini adalah perjalanan Nabi Muhammad menuju langit ketujuh hanya dalam waktu satu malam saja. Dan tentang Mi’raj Allah menjelaskan dalam Al-Quran Surat An-Najm ayat 13-18, yang artinya :

“Dan sesungguhnya dia Nabi Muhammad SAW telah melihat Jibril itu dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat Sidratul Muntaha ada syurga tempat tinggal. Dia melihat Jibril ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm:13-18)

Dalam perjalanannya menuju langit ketujuh Nabi Muhammad bertemu Nabi terdahulu dalam setiap tingkatan langit. Dilangit pertama Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Adam A.S, di langit kedua bertemu dengan Nabi Isa dan Yahya A.S, di langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf A.S, di langit keempat bertemu dengan Nabi Idris A.S, di langit kelima bertemu dengan Nabi Harun, di langit keenam bertemu dengan Nabi Musa A.S dan di langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim A.S.


1.        Langit Tingkat Pertama
Rasullulah SAW bertemu dengan manusia sekaligus wali Allah SWT pertama di muka bumi, Nabi Adam AS. Saat bertemu nabi Adam, Rasullulah sempat bertegur sapa sebelum akhirnya meninggalkan dan melanjutkan perjalanannya. Nabi Adam membekali rasullulah dengan doa, supaya rasullulah SAW selalu diberi kebaikan pada setiap urusan yang dihadapinya. Sambil mengucapkan salam, rasullulah meninggalkan langit pertama untuk menuju langit kedua.

2.        Langit Tingkat Kedua
Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Seperti halnya di langit pertama, rasullulah disapa dengan ramah oleh kedua nabi pendahulunya. Sewaktu akan meninggalkan langit kedua, Nabi Isa dan Yahya juga mendoakan kebaikan kepada rasullulah. Kemudian rasullulah bersama Malaikat Jibril terbang lagi menuju langit ketiga.

3.        Langit Tingkat Ketiga
Rasullulah bertemu dengan Nabi Yusuf, manusia tertampan yang pernah diciptakan Allah SWT di bumi. Dalam pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan sebagian dari ketampanan wajahnya kepada Nabi Muhammad. Dan juga di akhir pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan doa kebaikan kepada nabi terakhir itu.

4.        Langit Tingkat Keempat
Pada tingkatan ini, rasullulah bertemu Nabi Idris. Yaitu manusia pertama yang mengenal tulisan, dan nabi yang berdakwah kepada bani Qabil dan Memphis di Mesir untuk beriman kepada Allah SWT. Seperti pertemuan dengan nabi-nabi sebelumnya, Nabi Idris memberikan doa kepada Nabi Muhammad supaya diberi kebaikan pada setiap urusan yang dilakukannya.

5.        Langit Tingkat Kelima
Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Harun. Yaitu nabi yang mendampingi saudaranya, Nabi Musa berdakwah mengajak Raja Firaun yang menyebut dirinya tuhan dan kaum Bani Israil untuk beriman kepada Allah SWT. Harun terkenal sebagai nabi yang memiliki kepandaian berbicara dan meyakinkan orang. Di langit kelima, Nabi Harun mendoakan Nabi Muhammad senantiasa selalu mendapat kebaikan pada setiap perbuatannya. Setelah bertemu, kemudian Nabi Muhammad melanjutkan perjalanannya ke langit keenam.

6.        Langit Tingkat Keenam
Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril bertemu dengan Nabi Musa. Yaitu nabi yang memiliki jasa besar dalam membebaskan Bani Israil dari perbudakan dan menuntunnya menuju kebenaran Illahi. Nabi Musa juga terkenal dengan sifatnya yang penyabar dan penyayang selama menghadapi kolot dan bebalnya perilaku Bani Israil. Selama bertemu dengan Muhammad, Nabi Musa menyambut layaknya kedua sahabat lama yang tidak pernah bertemu. Penuh kehangatan dan keakraban. Sebelum Nabi Muhammad pamit meninggalkan langit keenam, Nabi Musa melepasnya dengan doa kebaikan.

7.        Langit Tingkat Ketujuh
Di langit ini, Nabi Muhammad bertemu dengan sahabat Allah SWT, bapaknya para nabi, Ibrahim AS. Sewaktu bertemu, Nabi Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’muur, yaitu suatu tempat yang disediakan Allah SWT kepada para malaikatnya. Setiap harinya, tidak kurang dari 70 ribu malaikat masuk ke dalam.
Kemudian Nabi Ibrahim mengajak Muhammad untuk pergi ke Sidratul Muntaha sebelum bertemu dengan Allah SWT untuk menerima perintah wajib shalat. Sidratul Muntaha merupakan sebuah pohon yang menandai akhir dari batas langit ke tujuh. Masih dalam hadits yang sama, rasullulah SAW menceritakan bentuk fisik dari Sidratul Muntaha, yaitu berdaun lebar seperti telinga gajah dan buahnya yang menyerupai tempayan besar.
Namun ciri fisik Sidratul Muntaha berubah ketika Allah SWT datang. Bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak bisa berkata-kata menggambarkan keindahan pohon Sidratul Muntaha. Pada kepecayaan agama lain, Sidratul Muntaha juga diartikan sebagai pohon kehidupan. Di Sidratul Muntaha inilah Nabi Muhammad berdialog dengan Allah SWT, untuk menerima perintah wajib shalat lima waktu dalam sehari.
Berfirman Allah SWT : “Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai kekasih sebagaimana Aku telah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan dan Akupun memberi firman kepadamu seperti firman kepada Musa Akupun menjadikan umatmu sebagai umat yang terbaik yang pernah dikeluarkan pada manusia, dan Akupun menjadikan mereka sebagai umat wasath (adil dan pilihan), Maka ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur“.
“Kembalilah kepada umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku”. Nabi kemudian menerima perintah untuk membawa amanah Allah berupa shalat 50 waktu dalam sehari semalam untuk Nabi Muhammad dan umatnya.
Kemudian Rasulullah turun ke Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan pulang di langit keenam, beliau bertemu Musa A.S. Terjadilah percakapan di antara keduanya, Musa menanyakan apa yang dibawa Muhammad setelah menghadap Allah. Muhammad kemudian menjelaskan mengenai perintah untuk melakukan shalat 50 waktu dalam sehari semalam. Musa lantas menyuruh Muhammad untuk kembali menghadap Allah dan meminta keringanan.
Muhammad lantas kembali kehadirat Allah untuk meminta keringanan. Permintaan tersebut dikabulkan, perintah shalat diturunkan menjadi 45 kali. Setelah itu Muhammad kembali dan bertemu lagi dengan Musa. Dikisahkan Nabi Muhammad SAW sempat beberapa kali pulang pergi untuk meminta keringanan shalat, hingga akhirnya turun menjadi lima kali dalam waktu sehari semalam.
Setelah perintah shalat diturunkan menjadi lima waktu dalam sehari semalam, dikisahkan bahwa Nabi Musa masih menyuruh Muhammad untuk meminta keringanan. Tapi Nabi Muhammad tidak berani lagi melakukannya karena malu pada Allah, ia pun rela dan ikhlas dengan ketentuan tersebut. Nabi akhirnya kembali dengan membawa perintah shalat selama lima waktu yang kita kenal sebagai shalat Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya.
Seyyed Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat Islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.
Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 45, yang artinya:

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah :45)

Shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan antara seorang hamba dengan Allah. Shalat juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh kedamaian. Makanya tidak berlebihan apabila Alexis Carrel menyatakan : “Apabila pengabdian, sholat dan do’a yang tulus kepada Sang Maha pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut“. Perlu diketahui bahwa A. Carrel bukanlah orang yang memiliki latar belakang pendidikan agama, tetapi dia adalah seorang dokter dan pakar Humaniora yang telah dua kali menerima nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja dan pencangkokannya. Tanpa pendapat Carrel pun, Al–Qur’an 15 abad yang lalu telah menyatakan bahwa shalat yang dilakukan dengan khusu’ akan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang harmonis, egaliter, dan beretika.
Dengan demikian shalat sehari yang lima waktu ini jangan sampai kita tinggalkan dengan alasan apapun, kecuali pada wanita yang sedang datang bulan. Perintah shalat yang diberikan langsung dari Allah kepada Muhammad merupakan perintah ibadah yang paling utama. Seperti yang dijelaskan diatas shalat yang baik dapat mencegah perbutaan yang keji dan mungkar. Shalat dapat diajadikan umat muslim sebagai media untuk mendekatkan diri dan seoalah-olah kita bisa besrtemu dan melihat langsung Allah Sang Maha Pencipta. Kita harus berusaha menghadirkan Allah ketika sedang melaksanakan shalat jangan hanya sekedar bergerak dan membaca bacaan shalat tanpa mengetahui bahwa sesungguhnya kita sedang berkomunikasai langsung dengan Allah. Selain sebagai kewajiban utama seorang muslim shlat juga punya banyak hikmah bagi manusia yang menjalankannya, salah satunya dibidang kesehatan.
Walaupun saat ini saya juga belum bisa melakukan shalat dengan baik,  karena shalat yang baik itu berhubungan dengan keikhlasan hati kita dengan Allah. Saya pribadi tidak bisa mendefinisikan keikhlasan tersebut. Akan tetapi suatu usaha untuk melakukan ibadah dengan baik harus kita coba dan kita latih setiap harinya, agar kita bisa menjadi lebih taat dan lebih mengerti tentang diri kita dan pencipta kita. Sebagai umat beragama yang baik jadikanlah sebuah peristiwa yang ada dimuka bumi ini sebagai pembelajaran dan sebagai penambah iman. Jadilah manusia yang “tanggap sasmita”, peka terhadap sebuah peristiwa.
Semoga kita termasuk orang yang bisa menjadi lebih baik dalam setiap waktunya. Manusia adalah orang yang rugi bila tidak bisa memanfaatkan waktunya, waktu tidak akan bisa kembali. Waktu akan terus berjalan membunuhnu dengan kejam, tanpa sebuah rasa belas kasihan untuk kembali mundur kebelakang. Waktu adalah racun manis yang mematikan apabila kita tertipu oleh muslihat setan. Waktu bisa berjalan lambat dan bisa berjalan cepat, tapi waktu tidak mungkin bisa berjalan mundur kebelakang. Peristiwa Isra’ Mi’raj ini juga berhubungan dengan waktu, dan apabila ada waktu saya akan membahasnya di tulisan berikutnya. heheuu


schTz
16-05-2015
Share:

Senin, 30 Maret 2015

Perwujudan Nafsu Dalam Diri Manusia



Manusia dilahirkan di dunia ini bersamaan nafsu yang mengikutinya, dimana nafsu itu bisa kita kendalikan dengan roh yang ada di dalam diri kita. Sejatinya nafsu itu bisa kita kendalikan bukan kita yang dikendalikan oleh nafsu-nafsu itu.
Siapa yang mencapai rasa yang lebih mendalam sekaligus mencapai eksistensi yang lebih mendalam, dengan sendirinya hidupnya akan berubah, ia akan memiliki sikap-sikap yang lain, yang lebih benar, lebih cocok dengan realitas yang sebenarnya. Oleh karena itu untuk memasuki batin kita, kita harus terus menerus memperhalus rasa. Rasa dalam arti indrawi membuat kita peka terhadap lingkunga fisik. Dalam rasa kita merasakan bagaimana perkembangan hubungan kita dengan orang lain. Semakin peka rasa kita semakin terbukalah hakekat kenyataaan yang sebenarnya. Usaha untuk memperdalam rasa jangan dipahami sebagai semacam penambahan pengertian langkah demi langkah dimana unsure kognitif ditumpukkan. Melainkan yang dimaksud adalah suatu kesadaran yang semakin mendalam, seakan-akan daun-daun pengertian yang sementara gugur satu demi satu tercapai dasar dan hakekat keakuan kita yang sesungguhnya (Suseno, 1984:131).
Sebelum menjelaskan tentang saudara-saudara yang ada di dalam tubuh kita Amarah, Lawwamah, Supiah, dan Mutmainah, baiknya kita mengetahui proses kelahiran kita di dunia tentu saja bukan proses dari segi medis. Mengambil dari Kitab Kidungan Purwajati tulisannya dimulai dari lagu Dhandanggula yang bunyinya sebagai berikut:

Ana kidung ing kadang Marmati
Amung tuwuh ing kuwasanira
Nganakaken saciptane Kakang Kawah puniku
Kang rumeksa ing awak mami
Anekakake sedya Ing kuwasanipun Adhi Ari-Ari
Ingkang Memayungi laku kuwasanireki
Angenakken pangarah Ponang Getih ing rahina wengi
Ngrerewangi ulah kang kuwasa Andadekaken karsane Puser
kuwasanipun Nguyu-uyu sabawa mami Nuruti ing panedha
Kuwasanireku Jangkep kadang ingsun
Papat kalimane wus dadi pancer sawiji tunggal sawujud ingwang.

Pada lagu diatas, disebutkan bahwa “Saudara Empat” itu adalah Marmati, Kawah ari-ari (plasenta / tembuni) dan darah yang umumnya disebut Rahsa. Semua itu berpusat di Pusar yaitu berpusat pada bayi. Jelasnya mereka berpusat di setiap manusia. Mengapa disebut Marmati, kakang kawah, adhi ari-ari, dan rahsa? Marmati itu artinya samar mati (takut mati). Umumnya bila seorang ibu mengandung sehari-hari pikirannya khawatir karena samar mati. Rasa khawatir tersebut hadir terlebih dahulu sebelum keluarnya kawah (air ketuban), ari-ari, dan rahsa. Oleh karena itu rasa samar mati itu lalu dianggap sedulur tuwo (Saudara Tua). Perempuan yang hamil saat melahirkan, yang keluar terlebih dahulu adalah air kawah (Air Ketuban) sebelum lahir bayinya, dengan demikian kawah lantas dianggap sedulur tuwo yang biasa disebut kakang (kakak) kawah. Bila kawah sudah lancar keluar, kemudian disusul dengan lahirnya si bayi, setelah itu barulah keluar ari-ari (placenta/ tembuni). Karena ari-ari keluar setelah bayi lahir, ia disebut sebagai sedulur enom (Saudara Muda) dan disebut Adhi (adik) Ari-Ari. Setiap ada wanita yang melahirkan, tentu saja juga mengeluarkan Rah (Getih=darah) yang cukup banyak. Keluarnya roh (Rahsa) ini juga pada waktu akhir, maka dari itu Rahsa itu juga dianggap sedulur enom. Puser (Tali pusat) itu umumnya gugur (Pupak) ketika bayi sudah berumur tujuh hari. Tali pusat yang copot dari pusar juga dianggap saudara si bayi. Pusar ini dianggap pusatnya saudara empat. Dari situlah muncul semboyan “sedulur papat limo pancer”.
Berdasarkan semboyan “sedulur papat limo pancer” dapat kita bagi bahwa dalam diri kita terdapat 4 macam nafsu, yaitu amarah, lawwamah, supiah, dan mutmainah. Dalam Al-Quran nafsu diistilahkan dengan jiwa. Ada nafsu/jiwa yang jahat dan ada juga nafsu/jiwa yang baik. Nafsu menimbulkan atau mengeluarkan hawa yang dalam istilah selanjutnya digabung menjadi satu yaitu hawa nafsu. Hawa adalah keinginan sedangkan nafsu adalah perbuatan. Hawa bisa juga adalah radiasi yang ditimbulkan oleh nafsu. Misalkan kita ingin makan, keinginan untuk makan itu disebut hawa, jadi hawa itu masih dalam batas keinginan. Kemudian jika keinginan itu ditindaklanjuti sehingga kita makan, maka perbuatan makan tersebut disebut nafsu. Jadi sebetulnya yang perlu dikendalikan itu adalah hawanya atau keinginannya, jika hawa terkendali maka otomatis nafsu juga akan terkendali.
Nafsu atau jiwa sudah ada bersama-sama sperma, dan bisa hidup lama jika ketemu dengan pasangannya yaitu sel telur (terjadi pembuahan) dan menempel di rahim untuk berkembang. Sperma hidup dan bisa berlari dengan kecepatan tertentu, mencari sel telur untuk menyatu (membuahi) dan hidup di dalam rahim. Sperma hidup dan bisa berlari karena mengandung jasad-jasad halus (mengandung nafsu-nafsu/jiwa-jiwa) dimana jasad-jasad halus tersebut mempunyai roh. Roh dari nafsu/jiwa berbeda dengan roh manusia. Roh manusia turun atau ada pada janin bayi ketika janin bayi berumur 3 sampai 4 bulan dalam kandungan ibu. Sedangkan nafsu/jiwa saat itu sudah ada terlebih dahulu. Oleh sebab itu janin bayi sudah hidup dan berkembang (ada denyutan) karena memang disitu sudah ada rohnya, yaitu roh dari 4 nafsu/jiwa tadi. Nafsu/jiwa hidup menyatu dengan jasad manusia, dari janin bayi dalam perut ibu, lahir menjadi bayi, menjadi anak-anak, remaja, pemuda/dewasa, dan akhirnya tua dan mati begitu juga dengan nafsu tersebut akhirnya mati (sempurna kembali ke asalnya).
Keempat nafsu yang menggambarkan unsur-unsur lahirah yang membentuk kejadian manusia (api, angin, air, dan tanah) dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Amarah
Nafsu Amarah dilambangkan seperti api, secara bawaaan lahir nafsu Amarah menempati lapisan pembungkus terluar sebagai pembungkus hati nurani dan cahaya nafsu ini bewarna merah. Amarah biasanya lebih cepat responnya bila terjadi sesuatu pada diri kita, dikarenakan menempati lapisan yang paling luar. Nafsu yang berasal dari unsur saripati api tentu nafsu ini akan membawa/mewarisi sifat-sifat api itu sendiri, antara lain:
Þ       Bersifat panas
Pada diri manusia nafsu ini akan membangkitkan rasa panas/emosi, ingin marah-marah kepada orang lain, temperamental, mudah tersinggung, ingin berantem, tidak segan menggunakan kekerasan.
Þ       Bewarna merah
Pada saat manusia dikuasai oleh nafsu ini maka raut mukanya akan menjadi merah, . telinga merah, dan jantung akan berdetak kencang.
Þ       Tegak Keatas
Api kalau dinyalakan selalu tegak keatas, tidak ada api yang menyala kebawah atau kesamping. Jika manusia sedang dikuasai nafsu ini maka akan bersifat sombong, tidak mau mengalah, selalu berprasangka buruk kepada orang lain, merasa paling benar dan paling suci sendiri.
Ada yang menyebut bahwa Amarah ini mempunyai sifat yang lebih kejam dari 70 sifat syetan. Dari sudut pandang agama islam dapat digambarkan dalam gerakan sholat, Amarah dalam huruf arab dilambangkan dengan huruf Alif (tubuh yang berdiri). Saat berdiri jagalah dirimu dari yang berdiri di dalam dirimu, yang dimaksud yang berdiri dalam tubuhmu adalah Amarah. Jika kita lihat sifat-sifatnya ada segi positif yang bisa kita pelajari dari amarah adalah “kita tidak mau tunduk kepada siapapun termasuk iblis. Kita hanya tunduk pada Sang Pencipta kita Allah SWT”. Selain itu Amarah bisa berguna untuk ambisi untuk maju, ambisi untuk menang dalam pertandingan.

2.      Lawwamah
Nafsu Lawwamah atau dalam bahasa jaga sering disebut Aluamah tercipta atau dilambangkan seperti angin. Lawwamah secara bawaan lahir menempati lapisan pembungkus kedua dari luar setelah Amarah, cahaya Lawwamah bewarna kuning. Kita bisa lihat sifat dan perilaku angin, angin bergerak tidak menentu arahnya kadang ke utara, ke selatan, ke barat, dan ke timur. Angin bergerak berdasarkan musim atau tekanan angin. Angin yang jalannya mendatar itu kalau terhalang benda akan berbelok ke atas, ke bawah, ke kanan, dan ke kiri dari benda itu, sifat angin selalu ingin menguasai atau mengisi seluruh ruangan dan tidak pernah bisa diam.
Dalam sudut pandang islam, Lawwamah digambarkan sebagai huruf Lam (tubuh yang Ruku’).  Jagalah dirimu dari yang ruku’/datar di dalam dirimu. Sesuatu yang datar yang dimaksut adalah Lawwamah. Dapat disimpulkan bahwa Lawwamah ini mempunyai sifat yang digambarkan seperti angin yang dapat tampil dalam diri kita sebagai seorang yang plin plan atau tidak punya pendirian, terbawa arus tren saat itu. Selain itu Lawwamah menggambarkan nafsu keserakahan atau rakus/berlebihan, terutama dalam tubuh kita nafsu yang inginnya makan terus, kalau di luar tubuh ingin mengusai harta dan menumpuk kekayaan. Segi positif dari Lawwamah adalah dia bersifat rajin dan selalu ada dimana-mana.



3.      Supiah
Nafsu Supiah berasal dari saripati air sehingga nafsu ini mewarisi sifat-sifat air. Supiah secara bawaan lahir menempati lapisan pembungkus ketiga dari luar setelah Lawwamah sebagai pembungkus hati nurani dan cahaya nafsu ini berwarna putih. Sifat air antara lain mencari tempat posisi yang paling rendah selalu mengarah kebawah kebalikan dari Amarah yang selalu mengarah keatas. Bila secara dominan akan membuat kita menjaadi rendah hati terhadap sesama dan rendah diri dihadapan Tuhan. Air selalu mengambil bentuk dari wadah yang ditempatinya, airnya Supiah pandai menempatkan diri, pandai membawa diri terhadap lingkungan sekitarnya, dan pandai menyesuaiakn diri kepada siapa yang sedang dihadapinya. Selain itu, Supiah juga memiliki sifat empati, rasa iba belas kasihan terhadap sesama, suka menolong yang dilandasi sifat kasih sayang.
Dalam sudut pandang islam, Supiah digambarkan sebagai huruf Mim (Tubuh yang sujud). Jagalah dirimu dari yang tunduk di dalam dirimu, yang tunduk di didalam diri kita adalah Supiah. Sifat negatif dari Supiah adalah pengumbar rasa kasih sayang, sehingga mengumbar nafsu birahinya sampai diluar batas. Supiah yang menyukai keindahan ini dapat digambarkan pula sebagai orang yang sedang dalam dalam keadaan kasmaran, senangtiasa membuat setiap orang terpesona dan menimbulkan hasrat tak pernah terpuaskan. Supiah bisa digambarkan dengan kata yang disebut “cinta”. Cinta dapat menimbulkan keindahan yang begitu hebat yang terkadang sangat sulit untuk dilupakan. Walaupun sekarang banyak yang salah mengartikan apa itu cinta, cinta yang sudah dikuasai oleh Supiah hanya akan menimbulkan birahi tanpa batas kepuasan. Semakin ia memperolehnya semakin tinggi pula keinginan untuk terus mencarinya.

4.      Mutmainah
Nafsu Mutmainah berasal dari saripati tanah sehingga mewarisi sifat-sifat tanah. Mutmainah secara bawaan lahir menempati lapisan pembungkus keempat dari luar setelah Supiah sebagai pembungkus hati nurani dan cahaya nafsu ini berwarna hitam. Tanah disini bisa diartikan juga sebagai bumi. Sifat dari tanah/bumi antara lain, tanah sering disakiti tapi malah selalu memberi manfaat. Lihatlah tanah, di injak-injak, dicangkuli, diambil isi perutnya (diambil hasil tambangnya), digunduli rambutnya (ditebangi pohon-pohonnya), dirubah bentuknya (diratakan gunung-gunungnya) namun tetap sabar dan menerima. Oleh karena itu Mutmainah ini mempunyai sifat yang sabar, rela menanggung beban orang lain dan lain-lain. Selalu ingin beribadah dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Karena kesabarannya, Mutmainah melambangkan nafsu yang tenang atau jiwa yang tenang.
Dalam sudut pandang islam, Mutmainah dilambangkan sebagai huruf Dal (Tubuh yang duduk/diam). Jagalah dirimu dari yang duduk /yang diam di dalam dirimu, yang duduk di dalam diri kita adalah Mutmainah. Mutmainah digambarkan sebgai orang yang duduk/diam itu mewakili sifat sabar dan tenang dalam menghadapi segala macam cobaan atau kejaian yang sedang menimpa/terjadi. Apabila tak dikendalikan Mutmainah ini akan menjadi sesuatu yang buruk yang bisa menguasia diri kita. Kita akan menjadi malas untuk melakukan sesuatu karena saking nrimonya diri kita atau terlalu sabarnya kita menghadapi sesuatu. Mutmainah yang menguasai akan membuat kita malas belajar, malas bekerja, dan yang lebih parah lagi kita tidak memperhatikan diri kita sendiri.
Dari keempat nafsu yang dilambangkan dengan empat unsur pembentuk kejadian Manusia ini, saling menolak dan membantu. Oleh sebab seorang Manusia dijadikan dari Tanah, Angin, Air dan Api, maka kita selalu akan membutuhkan ke empat unsur ini dalam hidup kita. Kita harus makan dari hasil Tanah, kita harus menghirup Udara dalam bernapas, kita amat perlu Air, kita amat perlu akan sinar matahari dan api untuk memasak dsb. Anehnya, ke empat nafsu ini pun saling menaklukkan satu dengan lainnya, maka karena inilah timbul konsep dalam Tasawuf : Sang Ruh itu adalah Laki-Lakinya, sedang Jasad itu yang dikuasai oleh ke empat nafsu adalah Perempuannya. Esensinya adalah Ruh kita harus mampu menguasai-mengendalikan Nafsunya yang Empat yang diibaratkan 4 orang istri. Nafsu itu ada didalam diri kita dan seharusnya kita yang menguasai dan mengendalikan nafsu-nafsu itu bukan sebaliknya kita yang dikuasai dan dikendalikan oleh nafsu-nafsu itu. Sekian, semoga kita bisa belajar mengendalikan nafsu-nafsu yang ada di dalam diri kita.

Sumber : Dari berbagai macam sumber



schTz
30-03-2015
Share:

Selasa, 24 Maret 2015

Jiwa dan Peradaban Korupsi



Sangat tidak mudah mengambil keputusan apakah korupsi adalah milik para koruptor ataukah milik kita bersama. Juga tidak gampang mengukur kadarnya sebagai “penyakit sistem” (struktural), sebagai “penyakit manusia” atau “penyakit budaya” suatu masyarakat yang berada dalam sistem yang sama. Ia sangat cair, seakan-akan merupakan serbuk yang rata menabur, atau bagaikan asap halus yang tak kasat mata, sehingga tidak bisa serta merta bisa disimpulkan bahwa perilaku korupsi adalah semacam anomali atau penyakit khusus yang berlaku pada sejumlah orang, ataukah ia memiliki “infrastruktur” budaya yang memang mendarah daging secara lebih menyeluruh pada kehidupan masyarakat kita.
Darah daging itu bisa jadi tak hanya berskala budaya atau kebudayaan, bisa jadi ia sudah merupakan peradapan. Terutama apabila disepakati bahwa korupsi materiil hanyalah satu output “kecil” dasar-dasar jiwa korupsi yang juga bisa menemukan manifestasinya pada perilaku lain, pada pola berpikir, cara pandang, cara memahami, cara merasakan, bahkan cara memahami dan melaksanakan iman. Tak pernah berhenti kita bertanya: di kedalaman jiwa manusia, apakah korupsi itu peristiwa mental, peristiwa ilmu, peristiwa akhlak, peristiwa iman, atau apa?
Kalau sudah sampai ke kompleksitas itu, kita yang di panggung berteriak “Wahai Kaum Koruptor...” tidak otomatis kita bukan koruptor. Atau kekhusyukan seorang dalam beribadah, status mulia seorang dalam kegiatan keagamaan, citra bersih seorang dalam imaji publik-tidak serta merta mengandung arti bahwa yang bersangkutan berada di luar lingkaran, jaringan, dan sistem korup. Bahkan kita yang bertugas memberantas korupsi, perlu mengaktifkan terus-menerus kewaspadaan diri untuk menjamin bahwa dalam berbagai konteks dan nuansa itu langkah-langkah kita benar-benar bebas dari potensialitas korupsi. Apalagi sejumlah pagar eksternal atau internal yang tak selalu bisa kita atasi membuat langkah-langkah kita tampak di mata orang lain sebagai “tebang pilih”.
(Oleh: Emha Ainun Nadjib dalm bukunya Demokrasi “La Roiba Fih”)

Pandangan saya
Korupsi atau rasuah berdasarkan apa yang sering kita dengar adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lainyang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan secara ilegal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Kata korupsi sendiri mempunyai arti busuk, rusak, menggoyahkan, dan memutarbalikkan. Di negara kita untuk memberastas tindak korupsi maka dibentuklan lembaga nati korupsi yang kita kenal dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) didirikan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Tindak Pidana Korupsi. KPK adalah lembaga negara yang dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan korupsi. KPK bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Dalam pelaksanaan tugasnya KPK berpedoman kepada lima asas, yaitu kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, kepentingan umum, dan proporsionalitas dan menampaikan laporannya secara terbuka dan berkala kepada Presiden, DPR, dan BPK.  
KPK dipimpin oleh pimpinan KPK yang terdiri atas lima orang, seorang ketua merangkap anggota dan empat wakil ketua merangkap anggota. Pimpinan KPK memegang jabatan selama empat tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk sekali masa jabatan. Dalam pengambilan keputusan, pimpinan KPK bersifat kolektif kolegia.
Penjelasan diatas adalah mengenai bagian dari korupsi secara kecil, akan tetapi korupsi yang bisa melumpuhkan kehidupan berbangsa dan bernegara khusunya di negara kita ini. Secara luas korupsi itu ada pada kehidupan kita sehari-hari termasuk mungkin di dalam diri kita ada perilaku korupsi yang kita lakukan entah sengaja atau tidak sengaja, entah besar atau kecil kerugian yang diakibatkan.
Misalnya anak sekolah, dulu ketika saya masih sekolah banyaak diantara teman-teman yang suka mengkorupsi uang buku, kalau saya ambil contoh uang pembayaran sekolah atau SPP mungkin itu yang tidak peduli adalah orang tuanya bukan anaknya. Uang buku yang semestinya Rp. 100.000,- untuk dibayarkan ke sekolah banyak diantara teman-teman yang meminta uang pembayaran kepada orang tuanya Rp 150.000,-  atau bahkan lebih, dan hal itu sama sekali tidak diketahui oleh orang tuanya. Keinginan untuk membeli benda/barang yang disukai adalah salah satu faktor pemicu tindakan itu dilakukan. Sangat sedikit yang melakukan karena alasan uang sakunya mepet, secara logika murid yang uang sakunya mepet adalah murid yang berasal dari keluarga tidak mampu. Itu gambaran murid yang masih duduk dalam bangku sekolah, mungkin nominal yang lebih bisa diperoleh ketika murid yang nakal itu duduk di bangku kuliah.
Dari segi pengajar gambaran korupsi itu pun juga bisa berikan contoh. Misalnya dalam kasus buku, kita sebgai murid kadang diharuskan memakai buku dari pengarang A tanpa adalah alasan yang jelas buku-buku B, C, dan D itu kenapa tidak boleh dipakai sebagai acuan dalam belajar. Terkadang bangku sekolah itu tidak memberikan atau membiarkan murid-muridnya mencari buku yang menurut murid itu bisa lebih mudah dipahami. Pengajar tersebut sudah secara sepihak membuat keputusan agar buku yang dipakai untuk proses pembelajaran adalah buku dari pengarang A. Dilihat dari hal itu guru tersebut sudah merampas hak berpendapat murid, walau terkadang kalau masalah buku murid tidak begitu peduli dengan itu, tapi seharusnya dalam dunia pendidikan demokrasi antara murid dan guru bisa dilakukan dengan baik. Guru itu pemimpin yang seharusnya dari hal-hal kecil bisa mengajarkan arti kejujuran dan keterbukaan terhadap muridnya.
Atau kalau boleh saya menduga mungkin itu sudah terjadi semacam ada monopoli antara pengaranng dan penerbit  buku A dengan pihak pengajar dan sekolah, hahahaha, itu dugaan paling ekstrem daan tidak pernah saya maafkan dugaan seperti itu, namanya juga dugaan boleh-boleh saja kan. Tapi yang pasti seharusnya ada sebuah demokrasi yang antara guru dan murid, memberikan batasan kepada murid adalah dengan cara memberikan kebebasan berpikir mereka kebebasan memahami buku dan kebebasan memilih cara belajar bagaimana yang bisa membuat mereka asik. Bukankah dengan begitu kreatifitas dan pola berpikir murid jadi lebih baik, tinggal para pengajar memberikan pembelajaran arahan kepada murid-muridnya.
Ini baru dari segi buku pelajaran, ada berbagai macam kasus korupsi yang bisa kita lihat. Masih banyak kasus korupsi yang bisa didapatkan dari dunia sekolah dunia yang kata almarhum Chrisye dunia yang penuh keindahan adalah pada masa sekolah. Walaupun korupsi yang terjadi dalam sekala kerugian yang sangat kecil antara murid dan orang tua, antara pengajar dengan murid. Tapi sebaiknya hal-hal seperti itu bisa dihindari dan dihilangkan.
Menginjak dunia akademisi perkuliahan saya akan memberikan contoh korupsi yang ada, eeeee dan ternyata tidak jauh neda dengan bangku sekolah, sekitar-sekitar itu. Hanya saja proses demokrasi di bangku perkuliahan sudah terlihat jelas antara pengajar (dosen) dengan murid (mahasiswa). Hanya kadang saya merasa prihatin (cie kayak pak SBY) dengan mahasiswa yang suka berteriak berantas koruptor, habisi koruptor, saya yakin kalau salah satu atau bahkan dua, tiga, dan seterusnya yang suka berteriak-teriak itu adalah penggelap uang SPP, heheheheheu. Habisi koruptor memangnya koruptor itu makanan kalau saya sih ga sudi makan koruptor, karena lebih najis dari daging babi. Hahaha.
Memang hal itu tidak bisa disamakan antara pelajar penyimpang uang buku, mahasiswa penggelap uang SPP, dan pejabat yang mensilumankan dana-dana proyek atau mensilumankan dana-dana yang lain. Akan tetapi dari segi moral dan dipandang dari sudut hati yang terdalam (bukan lagunya peterpan) ketiga hal itu sama tak ada bedanya, yang membedakan adalah dari segi hukum yang berlaku dinegara kita. Jiwa-jiwa korupsi itu muncul sejak kita dilahirkan tidak bisa dihilangkan, hanya bisa dikendalikan menurut terjemahan saya. Kalau boleh saya simpulkan korupsi ditingkat anak sekolahan itu disebut kenakalan kalau sudah ditingkat pejabat baik kelurahan, kecamatan, kabupaten/kotamadya, propinsi, dan negara korupsi disebut Kejahatan. Lebih tepatnya kejahatan kerah putih (White Color Crime).
Ada lagi contoh korupsi yang ada pada kehidupan sehari-hari, saya ambil contoh dari dunia kerja. Tapi ternyata saya tidak mampu menulisnya, silahkan kalian kalian menerjemahkannya sendiri, silahkan kalian “nyandak’i dewe” (memberi jawaban sesuai keinginannya sendiri terkadang lebih kepada jawaban yang ngawur), heheheu... Misalnya begini contoh yang umum adalah ketika kita tidur pada jam kerja pake ngorok, wah itu ngawurnya dua kali lipat. Pada saat perjalanan dinas, ada yang kadang mampir-mampir dulu kemana gitu, tapi itu idak dianggap korupsi kalau teman sekantornya dibawain oleh-oleh, ehmm itu juga ngawur tapi ngawur yang bermanfaat untuk teman-temannya. Bahkan ada kasus yng lebih parahnya kita pura-pura tidak tahu dan tidak peduli dengan praktik korupsi kecil pada perusahaan atapun instansi pemerintah. Terkadang keadaan yang membuat kita tak bisa melakukan apa-apa. Huhhffftt payah sekali kita sebagai manusia.
Sampai ada lagu dari navicula yang berjudul mafia hokum “Korupsi-korupsi kata ini lagi selalu menghantui negeri yang frustasi”. Kalau saya korupsi itu menghantui jiwa yang frustasi.
Mungkin dari cantoh-contoh diatas itu yang dimaksud oleh Cak Nun bahwa korupsi sudah mendarah daging pada kehidupan bermasyarakat kita. Kalau kita suka berteriak tentang kaum koruptor belum tentu secara otomatis kita ini bukan koruptor. Pesannya mari kita berantas korupsi sesulit apapun itu, sedalam apapun itu mulai dari hal-hal dalam diri kita sendiri. Pemberatantasan korupsi di negeri ini bukan semata-mata tugas KPK tapi juga kita bersama. Mari bersama kita lawan korupsi...!!!

 

schTz
23-03-2015
Share: