Senin, 17 Agustus 2015

Indonesia, Negeri J#ncuk yang kucinta! (part 2)



Indonesia, yang terlintas dipikiran saya adalah Indonesia Raya. Raya artinya besar, Indonesia adalah negeri yang besar dengan luas kurang lebih 5.193.250 km² yang mencakup daratan dan lautan. Hal tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara terluas ke-7 di dunia setelah 6 negara lainnya, yaitu Rusia, Kanada, Amerika Serikat, China, Brasil dan Australia. Jika dibandingkan dengan luas negara-negara yang ada di Asia, Indonesia berada diperingkat ke-2. Sedangkan jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara terluas di Asia Tenggara.
Tentang Indonesia Raya, coba tanyakan pada diri kalian sendiri kapan kalian terakhir mendengar dan menyanyikan lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya”. Sejanak, mari kita nyanyikan lagu “Indonesia Raya” dalam hati.
                       
                         “Indonesia Raya”

Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru, Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku, Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka, Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka, Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka, Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka, Hiduplah Indonesia Raya

Apa yang terasa ketika kita mendengar atau menyanyikan lagu kebangsaaan ini. Kalau saya sendiri ketika mendengar atau menyanyikan lagu ini pasti saya akan merasa sedemikian prihatinnya, mengalahkan prihatinya pohon jati yang meranggas di musim kemarau yang menunggu jatuhnya air hujan. Negara sebesar ini dengan kekayaan sember daya alam yang melimpah, tak bisa menjadikan rakyatnya makmur, negara dengan begitu banyak kebudayaan akan tetapi tak bisa membuat anak mudanya bangga untuk berbudaya dengan bangsanya sendiri, Apa yang salah Cuk dengan bangsamu??

Pada suatu sore di sebuah cakruk (gubuk) di pinggir sawah, matahari masih terasa panas, semilir angin menggesekakan butiran-butiran padi yang sudah menguning. Daun-daun randu yang berserakan di jalan mengalunkan irama keindahan alam desa yang tenang dan tentram, tapi di balik ketenangan dan ketentraman itu beberapa pemuda desa yang sedang merasakan keresahannya.
Gareng            : Gong , reneo tak kandani delok’en sawah-sawah neng desone dewe iki, sing do nggarap mung wong tuwo2 tok . (Gong, coba kamu kesini, Lihat sawah- sawah di desa kita ini yang mengolah dna menanam padi hanya orang tua saja).
Bagong           : Iyo Reng, saiki cah enom2 yen nyawang sawah kui koyo nyawang mantan yange sing lagi gandengan karo yange sing anyar, do jijik, gilo, lan mangkel, luwih becik  ora nyawang. Sok’e sawah2 wes raiso jamin kesenengane arek2 nom kui, heheuu. (Iya Reng, sekarang anak muda kalau melihat sawah itu semacam melihat mantan pacarnya yang sedang bergandengan dengan pacar barunya, mesti mangkel, lebih baik tidak melihatntnya. Mungkin sawah2 itu sudah tidak menjamin rasa senang anak2 muda, heheuu).
Gareng            : Hahahaha (tertawa terbahak bahak dengan raut muka ngejek), Itu kan kamu gong, ya kamu jangan cuthat gitu to gong, jangan bandingkan sawah dengan mantan pacarmu, yang berlalu biarlah berlalu. Gini Gong padahal dulu kan para penjajah tanah air kita ini datang negeri kita ini karena mereka terpincut akan kekayaan dan kesuburan tanahnya. Mereka mengincar hasil bumi negeri kita ini yang dikenal sangat baik kualitasnya. Tapi, lihatlah gong sekarang malah bangsa ini mengesampingkan bahkan meninggalkan tanah-tanah garapan mereka yang subur ini. Tak sedikit gong sawah dan tanah garapan yang subur berubah menjadi perumahan dan pabrik-pabrik. Lihat Gong di desanya Pak Lik mu Togog itu sudah berdiri pabrik textile yang sedemikian besarnya, warganya hanya rela menjadi buruh pabrik di situ. Limbahnya mengalir kesungai-sungai, sungai yang dulu jernih dan bening, sungai yang dulu waktu kita kecil biasa mancing ikan Bawal, Kuthuk, Wader sekarang berubah menjadi sungai coklat dan penuh sampah. Begitu juga gong di desanya  Budhemu Cangik sudah ada perumahan yang begitu megahnya yaitu Astina Pura Regency namanya seperti nama kerajaan pandawa, kamu tahu kan gong. Di Astina Pura Regency ini juga dihuni oleh manusia elit manusia yang mengaku modern dan kaya tetapi mereka lupa menjadi manusia karena mereka tak pernah bersosialisai, mereka tak pernah tau anak tetangganya itu kelas berapa dan sekolah dimana. Dan parahnya tetangganya meninggal saja mereka tidak tahu, malah kematian artis ibukota mereka tahu dan turut berduka cita. Hemmmm, J#ncuk!!
Bagong           : Tapi kan, orang-orang kota itu butuh gubuk untuk bercinta dengan istrinya, walau terkadang ada juga yang bercinta dengan yang bukan istrinya, heheuu. Selain itu mereka juga butuh bangunan yang disebut pabrik untuk melangsungkan kebutuhan perutnya Reng. Kebutuhan perut anak cucunya nanti makanya mereka bangun pabrik, toh kan tidak ada salahnya juga Reng. Dengan adanya pembangunan dan perumahan juga bisa menyerap tenaga kerja lho.
Gareng            : Iya juga sih reng pernyataanmu itu betul, akan tetapi bila semua itu pada porsinya tidak melebihi dan ada regulasi juga dari pemerintah agar mereka tidak sembarangan mengambil alih fungsikan lahan yang subur dan pruduktif menjadi lahan yang mati begitu saja. Harus disesuaikan dengan keadaan alam desanya. Apa kamu tahu ijin pengalihan fungsi lahan itu benar-benar ada aturanya. Di daerahnya bude Cangik itu perumahan dibangun secara masif dan tak terkontrol bisa menyebabkan iklim yang tidak sehat Gong. Dulu itu kita dikenal bangsa agraris, bangsa yang bisa memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri, dulu itu ada program swasembada pangan. Sekarang untuk kebutuhan pangan saja kita tiap tahun impor. Kita juga tidak tahu kan gong kebijakan impor itu benar-benar memang kita kekurangan bahan pangan atau Cuma kong kalikong saja. Kita kan cuma tahu dari media massa, dimana sekarang ini media massa juga butuh memenuhi isi perutnya, jadi berita benar atau salah, mendidik atau membodokan, bermanfaat atau mudharat, mereka sudah tak perduli, yang penting berita itu laku, Iya kan Gong?. Tidak sedikit masyarakat kita ini terhipnotis dan terpengaruh pikirannya dengan berita yang belum tentu kebenaranya, banyak yang menelan mentah2 berita dari media massa, bahkan yang lebih parahnya jika berita itu menyangkut SARA banyak yang langsung kebakaran jenggot dan dipikiranya hanya membalas dendam dan mengutuk tindakan itu. Media itu berperan besar untuk mempersatukan atau menceraiberaikan keanekaragaman bangsa Indonesia. Media juga berperan penting untuk mencerdaskan atau membodohkan masayarakat. Lihat sekarang media lebih berperan sebagai apa?, untung saja gong saya ini orang yang mereka anggap gaptek, jadi pikiran saya ini lebih merdeka dari mereka yang mengaku up to date. Up to date apa asu ra ndedet ya Gong, heheuu.
Bagong           : Yoi gong asu-asu sing golek duit kadang ngobrak abrik sampah yang sudah dibuang pada tempatnya, mereka malah menyebarkan sampah itu demi mencari tulang, sampah mereka jejalkan pada pikiran pikiran kosong masyarakat. Mengenai bangsa Indonesia yang akan berulang tahun ke 70 tahun ini, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita untuk membuat bangsa ini menjadi mandiri dan percaya diri seperti elang yang terbang dan berdiri gagah dengan kakinya sendiri. Para leluhur kita sudah bersusah payah mengorbankan segenap jiwa dan raganya untuk membawa bangsa ini merdeka. Sebagai generasi muda kita harus mau berpartisipasi untuk menyumbangkan ide dan tindakan sesuai dengan keahlian kita masing2. Apa keahlianmu Reng??
Gareng            : Kamu ga tau keahlianku Gong, aku itu ahli dalam merahasiakan apa keahlianku, aku diajarkan untuk tidak memamerkan apa yang bisa aku perbuat gong, aku gak mau nanti menjadi sombong kalau aku sudah berbuat sesuatu.
Bagong           : Alesan, buktinya aku lihat kamu masih dledar dleder kesana kemari kayak penggangguran ...

Senja diufuk barat sudah mulai merekah terlihat indah warna jingganya, pertanda malam akan segera menggantikan siang, malam akan menghampiri kesunyian desa-desa yang ditinggal oleh anak2 mudanya, angin semilir sudah mulai terasa dingin. Terlihat dengan sepeda kumbang pemuda bernama Petruk menghampiri Gareng dan Bagong.

Petruk             : Hehhhh, J#ncuk kalian ini disuruh mencari bambu untuk masang umbul2 di balai desa, tak lihat malah asik udat-udut sambil cerita ngalor ngidul di cakruk ini. Ayo bambunya di bawa dan dipasang di balai desa, Kalian sudah dicari Pak RT Semar. Bangsa ini tidak akan berubah jadi apapun kalau kalian hanya punya ide tapi tak direalisasikan, saat ini kan slogannya kerja kerja kerja jangan cuma ngomong tok kayak sebagian anggota Dewan di senayan. Umbul2 sebelum magrib harus sudah terpasang, karena nanti malam kita masih ada tugas ngecat jalan cuk.
Siap Pak Ketua ( Gareng dan Bagong teriak bersama)....!!!!!

Mungkin ilustrasi cerita di atas juga dialami sebagian kecil pemuda Indonesia yang tidak mau bangsa Indonesia ini kehilangan harga dirinya dihadapan bangsanya sendiri. Saya juga merasa bahwa penjajahan ini belum berakhir penjajahan seduah berubah bentuk dari penjajahan secara fisik menjadi penjajahan yang berupa mental dan pola pikir.
Pada bulan agustus, bulan dimana bangsa Indonesia melalui Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Mungkin sudah menjadi garis Tuhan, bom di Hirosima dan Nagasaki Pada tanggal 6 Agustus 1945 menyebabkan jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu tanggal 15 Agustus 1945. Bom tersebut di luncurkan oleh Amerika karena jepang lebih dulu menyerang pangkalan laut Amerika Pearl Harbour. Setelah diketahui bahwa jepang sudah menyerah tanpa syarat kepada sekutu, menyebabkan terjadinya vacum power di Indonesia, artinya tidak ada pemerintah yang berkuasa. Oleh karena itu para kelompok pemuda memaksa Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Proses lebih detailnya bila kalian baca lagi di buku2 sejarah Indonesia.
Bulan agustus dimana untuk menyambut HUT kemerdekaan RI, warga negara di seluruh penjuru tanah air mengadakan berbagai acara untuk memperingatinya ada lomba, ada jalan sehat, ada sepeda santai, dan lain sebagai, dan biasanya sebagai puncak acaranya adalah malam tirakatan malam sebelum tanggal 17 Agustus. Walaupun ada juga warga yang tidak merayakan HUT RI, dan ada juga yang merayakanya tapi ruh dari perayaan dan mengingat kembali perjuangan para luluhur sudah tidak ada, perayaan HUT RI disamakan dengan perayaan ulang tahun anak2, heheuu
Hanya hura-hura dan senang-senang, banyak yang mengartikan kemerdekaan bangsa ini dengan kemerdekaan untuk dirinya sendiri,  kemerdekaan yang jauh dari merdeka, karena sebetulnya mereka hanya memuaskan hawa nafsunya. Seorang belum bisa dikatakan merdeka kalau masih dikauasai hawa nafsunya.
Mungkin pemerintah seharusnya memberi contoh bagaimana perayaan puncak HUT kemerdekaan RI, ada syarat wajib yang harus dilakukan untuk mengenang jasa pahlawan, misalnya dongeng tentang perjuangan para leluhur dimana hal itu dapat menjadikan kita dan anak-anak bahwa perjuangan itu sulit dan kita sebagai generasi penerus bangsa harus mengisi kemerdekaan ini dengan hal2 yang positif dan membawa kemakmuran bagi seluruh masyarakat. Bukan cuma acara makan2, nyanyi2, dan joget2. Atau mungkin juga harus diakan upacara kecil-kecilan di balai setiap RT atau RW pesertanya ya warga dengan sukarela, agar kita lebih cinta lagi terhadap Indonesia. Ahh itu bukan jaminan juga, di setiap institusi pemerintah yang selalu mengadakan upacara bendera tanggal 17 Agustus, banyak juga pegawai yang masih melakukan tindakan yang jauh dari memajukan bangsa yaitu korupsi. Ada salah dengan bangsamu Cuk??
Sebagai penutup kupersembahkan puisi berjudul “Indonesiaku”

Indonesiaku

Wahai Indonesiaku
Tujuh puluh tahun Kau telah merdeka
Berkibarlah merah putihmu untuk selamanya
Berkibar diseluruh penjuru nusantara
Tunjukkan Kau kuat diterjang hujan dan petaka

Wahai Indonesiaku
Telah gugur ribuan pahlawan untuk membelamu
Mereka berjuang dan tak kenal waktu
Mereka serahkan jiwa dan raganya untukmu
Mereka angkat senjata untuk mengusir penjajahmu
Dan mereka teriakkan Merdeka..Merdeka..Merdeka
Untuk Indonesiaku

Merdeka..
Tujuh puluh tahun bangsa ini merdeka
Merdeka secara apa??, kalau ternyata tak mengerti maknanya
Korupsi dimana-mana, menggerogoti kekayaan bangsa dan negara

Merdeka..
Inikah cita-cita pahlawan dan pendiri bangsa???
Ohhhh, Walaupun Negeri ini J#ncuk
Aku tetap mencintai Indonesiaku

Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 70, ayo kerja dan berkarya untuk membangun bangsa.
#RI70


schTz
17.08.2015
Share:

Minggu, 26 Juli 2015

Aku Adalah Puisi



Aku adalah puisi
Tercipta dari rangkaian kata-kata
Tak sekedar tulisan
Tak sekedar ucapan
Aku adalah rangkaian kata-kata yang menyuarakan
Suara tentang cinta
Suara tentang rindu
Suara tentang alam
Dan suara tentang kebodohan dan ketidakadilan
Suara yang dibatasi pada sebuah kotak
Setiap periode 5 tahun sekali untuk perayaan demokrasi

Aku adalah puisi
Tercipta dari lamunan dan imajinasi
Imajinasiku tentang keindahan
Imajinasiku tentang kedamaian
Imajinasi negeriku yang sudah tak bisa lagi berimajinasi,
selain sesuatu yang mereka sebut “uang”

Aku adalah puisi
Yang ditulis pada sebuah kertas kotor
Tercorat-coret, terhapus, kemudian terabaikan
Aku tak meminta untuk diagungkan
Karena aku bukan kebenaran
Kebenaran telah hilang, kebenaran bersembunyi, dan tak ada yang peduli untuk mencari
Kebenaran masih takut dengan kemakmuran

Aku adalah puisi
Tersesat diantara kumpulan berita dan informasi
Kata-kataku mereka rangkai, lalu dijual tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi
Itulah informasi tak pasti terjadi tapi sudah membumi

Aku adalah puisi
Tak punya tempat, tak punya ruang
Walau untuk sekedar berekspresi dan unjuk gigi
Tempatku sudah tergusur baju pembangunan
Ruangku sudah terkunci kejamnya kebutuhan

Aku adalah puisi
Semoga Aku Menginspirasi

 #SelamatHariPusiNasional


SchTz
26 Juli 2015


Share:

Senin, 15 Juni 2015

Singgasana Semua Manusia



Kukuruyuk kok kok kok petok petok suara ayam berkokok dibalik lahan jagung, menandakan hari sudah pagi. Rumput-rumput segar kembali berhias embun pagi, begitu juga daun-daun ada setitik air di ujungnya. Matahari mulai menyulam hari, sinarnya melelehkan udara dingin di pagi hari.
Seperti biasa Gareng tak pernah tepat dalam menjalankan ibadah di pagi hari, dia pun langsung bangun dengan ekspresi kaget “lhoh uwes isuk to cuk”, kemudian bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan ibadahnya. Padahal hampir setiap pagi dia terlambat bangun, dan gak bosan-bosannya laki-laki perantau ini kaget, mungkin hanya pencitraan. Kamar kos yang sempit itu sudah dimasuki cahaya matahari. Kamar yang berisi satu kasur, satu bantal, dan satu guling dan peralatan lainya selalu terlihat rapi untuk ukuran seorang laki-laki.
Pagi adalah waktu dimana gareng dan teman-teman kosnya petruk, bagong, togog, dan bilung berebut dan antri untuk mendapatkan singgasananya. Mereka selalu berebut dan tak pernah mau antri seperti pembagian zakat yang dilakukan oleh orang-orang kaya itu.
Entah kenapa kalau pas pembagian zakat atau pembagian yang lain yang berupa uang atau makanan orang-orang di negeri ini selalu berebut dan tak pernah mau antri. Semisal pembagian nasi bungkus, pembagian takjil, dan pembagian BLT (Bantuan Langsung “Telas”), “telas” artinya habis. Mereka selalu berebut, mungkin itu juga pencitraan biar terlihat “gayeng”. Media pun jadi punya bahan pemberitaan untuk sesuatu yang disebut “gayeng” itu. Sepeti ada gula ada semut, dimana ada kegayengan disitu pasti ada media.
Lhoh pagi itu bukan uang atau pun makanan yang direbutkan gareng dan kawan-kawanya. Pak Dursasana selaku pemilik kos menanyakan itu kepada gareng. Pak Dursana yang berkumis tebal yang menginspirasi tokoh pak Raden ini menanyakan dengan wajah sangar. “Reng, ngopo to kowe lan konco-koncomu kui angger isuk mesti kok gawe geger kos-kosan wae”. Belum sempat gareng menjawab, terdengar suara celetukan bagong dari belakang “Ora popo pak ben gayeng wae”, Gereng pun menambahi celetukan bagong iya pak biar “gayeng” aja, siapa tahu nanti ada media yang meliput rumah kosnya Pak Dursasana, kan Pak Kumis panggilan akrab Pak Dursasana di kampung nanti bisa terkenal seperti calon Pak Kapolri dulu itu. “Woo lha bocah-bocah edan”, Pak Dursasana pun berkata sambil melangkah pergi untuk memberi makan ayam-ayamnya yang berada di dekat lahan jagung miliknya
Dalam urusan berebut singgasana gareng selalu menjadi yang nomer wahid di setiap paginya, karena  kamar kos gareng terlatak di samping kamar mandi. Singgasana itu di dalam kamar mandi. Di depan kamar mandi ada tempat untuk mencuci baju, dan biasanya sambil menunggu gareng keluar dari singgasana petruk mencuci gelas dan pring di depan kamar mandi. Togog dan Bilung selalu bersama-sama untuk mencuci baju, walaupun bukan saudara kembar togog dan bilung ini adalah sahabat sejak TK kemana-mana mereka selalu berdua sampai kuliah pun mereka sejalan untuk mengambil universitas dan jurusan yang sama.
Sementara bagong hanya “klepas-klepus” menikmati rokok dan “nyruput” kopinya sambil sesekali berteriak “ndang cepet reng, nek ngising rasah suwe-suwe rasah kakean mikir nek neng njero”. Gareng memang sesosok orang yang intelek di selalu memikirkan apa yang menjadi ganjalan di pikiranya, termasuk saat dia berada di dalam kamar mandi.
Tak heran kalau kamar mandi dia sebut dengan ruang inspirasi atau bilik perenungan, dan WC dia sebut sebagai singgasana. Menurut gareng selagi kita berada di atas singgasana tak hanya kotoran dalam perut yang dikeluarkan tapi pikiran dan uneg-uneg kadang muncul di tempat itu dan di waktu itu. Tak jarang dari singgasana itu ide-ide brilian manusia tercipta.
Manusia punya singgasana yang selalu mereka duduki, tapi tak jarang mereka hanya menganggap subuah proses kehidupan yang kotor. Singgasana hanya sebuah buangan yang tak bermakna dan kotor, bukankah hal yang kotor adalah sesuatu yang bisa kita jadikan perenungan, kita tak mungkin bisa mengerti tentang bersih kalau tak mengatahui apa itu kotor.
Bukankah setiap manusia punya kentut dan punya kotoran untuk dikeluarkan, manusia adalah makhuk yang selalu kotor dan lebih kotor dari kotorannya sendiri kenapa masih ada manusia yang selalu merasa suci. Kita manusia kotor yang berusaha menjadi bersih tanpa harus benci terhadap apa yang disebut kotor. Dan WC adalah singgasana semua manusia di atas situlah manusia bebas berimajinasi apapun dan bebas memikirkan apapun seperti raja yang bebas melakukan apapun sesuai kehendak hatinya.
Sambil menunggu kotoraan yang keluar dari perutmu kalian juga bebas mengeluarkan pikiran-pikiran yang kalian rasakan. Di singgisana itu walau raga kalian terpojok oleh hiruk pikuk dunia yang penuh ilusi ini, tapi di singgasana itulah pikiran kalian bebas.
Sambil nerocos tak karuan kepada bagong, tiba-tiba gareng membacakan puisi dengan lantang sambil “ngeden”, berikut cuplikan puisi gareng kepada bagong:



Ruang Inspirasi

Ditumpuk, ditimbun, dan kemudian dibakar
Pikiran ini menggumpal seperti sampah
Tak wajib dilenyapkan tapi harus dikeluarkan
Dikeluarkan bersamaan dengan sampah di perutmu

Melayang dan menyebar kesana kemari
Seperti awan yang bergerak mencari tujuan berlabuh angin ribut
Seperti awan yang akan menjadi butiran hujan yang menyejukkan
Pikiran ini harus dijatuhkan
Harus diturunkan seperti harga sembako menjelang puasa dan lebaran
Diturunkan bersamaan sampah di perutmu
Biar tak menjadi uap panas yang menggerahkan

Titik-titik, sudut-sudut, sela-sela
Hampir tiada lagi tempat untuk disinggahi
Semua penuh, semua sesak seperti kota metropolitan
Penuh dengan manusia, penuh dengan kendaraan, penuh dengan asap,
Dan pasti penuh dengan kotoran
Kotoran yang mereka ciptakan sendiri dan kemudian mereka buang lagi
Hanya untuk sebuah ambisi pemenuhan isi perut
Yang tak disadari bahwa perut tak lain adalah pencipta kotoran

Terdiam, di dalam bilik perenungan
Hanya tempat ini yang menjadi sebuah jawaban
Sebuah ruang inspirasi yang pengap
Konsentrasi, hanya butuh sedikit waktu untuk mengakhiri
Booooom, semua keluar berhampuran dan berserakan
Seperti serangan Pearl Harbor pangkalan angkatan laut amerika di Hawaii
Pikiran dan sampah perut pun keluar dibalik bilik
Inilah yang dinamakan “ngising”.


Bagong tak menggubris dia hanya memainkan asap rokoknya dari mulut yang krmudian dia keluarkan dengan bentuk lingkaran, dan sesekali asap yang dia keluarkan dia hisap kembali melalui hidung. Kopi di cangkir bagong sudah habis dan gareng tak kunjung keluar dari singgasananya. Hei blok, berapa lama lagi kamu akan keluar dari singgasanamu. Kamu bukan presiden yang wajib merungkan apa yang menjadi masalah di negeri ini, kamu itu hanya kotoran-kotoran mambu yang tak mungkin tercium dan dicium oleh hidung pengusa yang sudah tertutup dengan bau sedapnya uang.
Kamu jangan lebay reng, jangan kayak anggota DPR yang sok beraspirasi buat rakyatnya, mereka membutuhkan dana aspirasi sebesar Rp 20 M setiap tahunnya. Alasanya sih untuk menyejahterakan dapilnya masing-masing. Mau jadi pahlawan buat dapil-dapilnya. Memangnya di dapil itu tidak punya kepala daerah. Pengusa-pengusa negeri ini sudah mulai tumpang tindih tugasnya reng, apa kamu akan memikirkan mereka yang tak memikirkan nasib kita yang tidak tahu besok mau makan apa??.  Haaaa
Yang terpenting saat ini adalah kamu itu harus segera keluar dari singgasanamu itu. Kami ini juga mengantri untuk “ngising”, kami juga punya uneg-uneg, bukankah setiap manusia yang waras itu juga perlu uneg-uneg, “ngerti opo ora Cuk??”, Bagong berteriak keras. Jangan kayak Pak Harto kalau sudah duduk di singgasana tak mau turun-turun. Apa kami harus menunggu 32 tahun hanya untuk sekedar “ngising”.
Suatu hari petruk, bagong, togog, dan bilung yang tak tahan dengan kelakuan gareng ketika di kamar mandi lapor kepada Pak Kumis. Sebelum lapor mereka berunding dengan gareng untuk membuatkan surat permintaan WC kepada Pak Kumis, dan gareng pun menyetujuinya.
Akhirnya greng membuat surat permintaan kepada Pak Kumis selaku pemilik kos, Greng dkk meminta agar Pak Kumis membuat WC lebih dari satu syukur2 bisa membuat WC berjumlah 5, agar tidak terjadi keributan lagi disetiap paginya.
Gareng juga menambahkan kata-kata pesan kepada Pak Kumis dalam surat permintaanya itu WC adalah tempat sampah yang paling dibutuhkan manusia. Singgasana itu tak kalah pentingnya dengan TPA Putri Cempo di kota Solo. Manusia adalah pencipta sampah, jangan lupakan sampah dan kotoranmu karena sampah dan kotoran bisa membunuhmu. Gak percaya coba kamu gak “ngising” selama seminggu pasti ada ambulan ngiung ngiung yang mendatangimu. Heheuu terdanda anak2 kosmu yang edan: Gareng, Petruk, Bagong, Togog, dan Bilung.
Pak Dursasana orang yang dikenal pelit itu pun menanggapi surat permintaan Gareng dkk, wah kalo permintaan kalian saya kabulkan nanti tempat kos ini jadi gak gayeng lagi dong, dan gak akan mungkin ada media yang mau meliput. Gereng tak kalah akal, yasudah kalau tak mau, kami berlima akan pindah tempat kos, ancam gareng. Akhirnya Pak Kumis setuju dan seminggu kemudian WC tambahan itu dibangun,



schTz
15.06.2015
Share: